Sudah satu tahun berlalu, Luo Bo dengan giat menulis semua buku perpustakaan yang ia pinjam ke buku catatannya. Perasaannya membuncah, ia merindukan kakaknya dengan sangat. Kadang ia bertanya, Kenapa ia tidak pulang-pulang, padahal gurunya di akademi sudah memberikannya waktu libur setiap minggunya. Namun itu tidak cukup bagi Luo Bo, ia merasa ia harus pulang dengan predikat sebagai oleh-oleh kepulangannya. Makanya ia terdiam di akademi selama setahun, tanpa menemui kakaknya lagi di kampung halaman. “Kamu begitu, apa kakakmu mengerti?” seorang remaja disebelahnya berpangku tangan, menatap Luo Bo malas. Ia menghela nafas, lalu kemudian menguap. “Aku tidak sepintar kamu, Xin. Usahaku harus lebih banyak” “Bukan masalah usaha saja” tangan remaja itu langsung menggenggam pundak Luo Bo, lalu memaksa tubuh remaja itu untuk berhadapan dengannya. Telunjuknya mengarah pada dada Luo Bo, “Tapi disini” “Kalau kamu hanya tahu usaha, tapi tidak memberi makan pada hatimu.....
Koleksi Novel Terjemahanku^^