Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Chapter 4. Kehampaan yang sunyi

Sudah satu tahun berlalu, Luo Bo dengan giat menulis semua buku perpustakaan yang ia pinjam ke buku catatannya.  Perasaannya membuncah, ia merindukan kakaknya dengan sangat. Kadang ia bertanya, Kenapa ia tidak pulang-pulang, padahal gurunya di akademi sudah memberikannya waktu libur setiap minggunya.  Namun itu tidak cukup bagi Luo Bo, ia merasa ia harus pulang dengan predikat sebagai oleh-oleh kepulangannya. Makanya ia terdiam di akademi selama setahun, tanpa menemui kakaknya lagi di kampung halaman. “Kamu begitu, apa kakakmu mengerti?” seorang remaja disebelahnya berpangku tangan, menatap Luo Bo malas. Ia menghela nafas, lalu kemudian menguap. “Aku tidak sepintar kamu, Xin. Usahaku harus lebih banyak” “Bukan masalah usaha saja” tangan remaja itu langsung menggenggam pundak Luo Bo, lalu memaksa tubuh remaja itu untuk berhadapan dengannya.  Telunjuknya mengarah pada dada Luo Bo, “Tapi disini” “Kalau kamu hanya tahu usaha, tapi tidak memberi makan pada hatimu.....

Chapter 10

 Chapter 10 "Hah?" Elvin terkejut terhadap Irene yang tiba-tiba menghiburnya. Alih-alih menjawab rasa heran Elvin, Irene malah menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa.  Sekarang, tanggung jawab Irene menjadi lebih berat. Kakaknya juga berharga, tapi masa depan temannya juga dalam bahaya.  Dia juga tidak bisa membiarkannya menderita karena bekerja di bawah pimpinan orang seperti Yang Mulia, Putra Mahkota. Syukurlah, baik anak laki-laki ini dan Benjamin masih sangat muda. Dan usia 12 tahun adalah usia yang cukup untuk mengubah masa depan. “Aku benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang Putra Mahkota” Ketika Irene mulai berbicara dan fokus pada bukunya lagi, Elvin benar-benar melewatkan kesempatannya. 'Kenapa kamu perlu tahu lebih banyak tentangku?' Dan, rasa penasaran Elvin pun tidak bisa hilang. Sementara Beth, pelayan pribadi Irene, kembali dengan wajah berseri-seri setelah lama berbicara dengan teman lamanya itu. .... “Nona muda dari kediaman We...

Chapter 3. Bisikan Janji

Seorang pria tua, berjalan mengitari pohon sakura legendaris dengan tertatih. Ia terlihat memayungi sesuatu, namun wujudnya tidak ada.  Liu Er dapat melihat langsung pria itu dari balik jendela di pondoknya. Gadis itu mengenalinya, pria tua itu adalah Dukun desa sekaligus guru ajar bagi Luo Bo, adiknya. “Ingatanmu yang sirna, namun aku tidak, Ling Xhi” gumam pria tua itu, memayungi entah kepada apa.  Namun dimatanya, yang menguasai indra keenam, ia tengah memayungi seorang wanita cantik berbaju putih megah dengan rambut terurai panjang, tiara bunga peony. “Kamu menjadi ibuku, saudaraku, kakakku, keluargaku dan.. Cinta pertamaku” “Aku tidak tahu, kalau aku saat itu diburu waktu..” “Dengan bahagianya, merencanakan bagaimana untuk melamarmu..” “Namun kesempatan itu hilang” “Dibawah sakura ini, kamu ikat jiwamu sendiri, agar tidak bereinkarnasi..” “Asal bersamamu.. Aku tidak perlu pergi..” Liu Er berlari menghampiri sang dukun desa itu dengan payung di tangannya, wajah...

Boneka Kepercayaan Sang Tirani

Preview Nama Terkait: 폭군의 애착인형 Bahasa: Korea Penulis: Baek Yi Dam/ 백이들 Illustrator: Anz Tahun Terbit: 2020 Status di COO: Selesai (233 bab) [Sinopsis] Kakaknya, yang menyebabkan kudeta, mengiris lehernya. Setelah ia kembali ke masa sebelum ia meninggal, ia bertekad untuk menjinakan kakaknya itu dan bertahan hidup. Tapi… Apa dia terlalu menjinakkannya? ... “Kakak, kenapa kamu tidak segera menikah?” Tidak ada balasan darinya, namun gelas yang kakaknya pegang itu retak sampai akhirnya pecah. “Oh tidak, kamu berdarah.” “Mengapa aku harus menikah?” “Eh?” "Aku sudah memilikimu" Mengapa kamu harus menikah, katamu? Kamu harus menikahi seseorang dan menjadikannya Permaisurimu agar aku bisa pergi dari sini!  Sezh tertawa aneh. “Sezh" Pada saat itu, Sezh tersandung dan Raytan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Mata merahnya mulai bersinar, secara intens menatap Sezh yang berada didalam pelukannya. “Kamu tahu.. kalau kita bukan saudara kandung,”

Chapter 9

 Chapter 9 Dalam novelnya, Putra Mahkota tersebut digambarkan dengan cara yang berbeda-beda. Seperti 'Memiliki figure baik yang dikagumi semua orang'. 'Senyuman ramah yang mampu melemahkan kekerasan hati orang-orang'. 'Ototnya yang keras diam-diam terasa saat bersentuhan'. 'Aku menyapu garis rahang yang indah itu dengan jari-jemariku' (Deskripsi  selanjutnya). Namun itu semua adalah deskripsi yang tidak berguna. Bukan hanya kurang objektif, tapi juga tidak berlaku untuk Putra Mahkota, yang masih kecil. Jadi satu-satunya informasi yang valid adalah rambut hitamnya dan dia memiliki mata hijau seperti permata. Ada begitu banyak pria serupa di dunia ini. Pertama-tama, anak laki-laki di depannya sekarang juga memiliki rambut hitam dan mata hijau. Begitu pula dengan pustakawan yang bekerja di perpustakaan. Beberapa saat yang lalu, ada seorang anak laki-laki berambut hitam di antara mereka yang berbicara buruk mengenai Benjamin...

Chapter 8

 Chapter 8 Kebetulan yang cukup aneh, ada dua orang yang muncul disaat bersamaan meneriakan hal yang sama,  "Jangan bicara omong kosong!" Salah satu bocah yang bergosip tersebut membuka suaranya. "Kalau begitu apa?" Irene ingin mencoba langsung memberitahunya, Tapi anak laki-laki dengan rambut hitam segera memotong niat Irene. "Saat itu sedang diskusi tentang teorema Jennings" Irene langsung menatap anak laki-laki berambut hitam itu, dalam diam. “Ada perkataan yang keluar dari mulutnya selama kelas berlangsung” Irene akhirnya menyadari apa yang dia bicarakan. Anak lelaki ini mencoba untuk mengatakan kejadian tentang Bagaimana Benjamin mengeluarkan Profesor tersebut saat itu. “Sepupumu mungkin hanya melebih-lebihkan kejadian yang sebenarnya, karena dia merasa dilecehkan oleh anak yang usianya lebih muda darinya” "Selama masa pembelajaran, Benjamin mengoreksinya karena ada yang salah dalam penjelasannya" "Professor itu mungkin kesa...

Chapter 2. Penantian Panjang di hari Minggu

Tiba saatnya untuk mengucapkan perpisahan pada Luo Bo yang sudah menginjak usia 14 tahun.  Ia akan mengembara dan belajar untuk menjadi dukun dari desa kecilnya, yang bertanahkan kumpulan kelopak bunga sakura. Liu Er hanya bisa tersenyum melihat kepergian adiknya yang perlahan menjauh dari pandangannya, kemudian baru meneteskan air mata, ketika Luo Bo benar-benar hilang bayangannya. [“Aku akan pulang setiap hari Minggu!”] Janji Luo Bo pada kakaknya, ketika mereka tengah memakan bakpao ubi dipagi hari. Makanan Luo Bo sebelum pergi belajar keluar desa.  Kakaknya yang mendengarnya hanya tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan saat adiknya mulai berkicau, betapa ia sangat menantikan untuk belajar keluar desa mengejar cita-citanya. ‘Apa aku ada hak untuk melarang? Keluarga yang baik bukan menjadi penghalang harapan’ batinnya, sambil menggerus daun teh kering dalam wadah.  Matanya melihat keluar jendela, tirai jerami itu sedikit terbuka, kelopak bunga sakura masuk mel...