Langsung ke konten utama

Chapter 3. Bisikan Janji

Seorang pria tua, berjalan mengitari pohon sakura legendaris dengan tertatih. Ia terlihat memayungi sesuatu, namun wujudnya tidak ada. 

Liu Er dapat melihat langsung pria itu dari balik jendela di pondoknya. Gadis itu mengenalinya, pria tua itu adalah Dukun desa sekaligus guru ajar bagi Luo Bo, adiknya.

“Ingatanmu yang sirna, namun aku tidak, Ling Xhi” gumam pria tua itu, memayungi entah kepada apa. 

Namun dimatanya, yang menguasai indra keenam, ia tengah memayungi seorang wanita cantik berbaju putih megah dengan rambut terurai panjang, tiara bunga peony.

“Kamu menjadi ibuku, saudaraku, kakakku, keluargaku dan.. Cinta pertamaku”

“Aku tidak tahu, kalau aku saat itu diburu waktu..”

“Dengan bahagianya, merencanakan bagaimana untuk melamarmu..”

“Namun kesempatan itu hilang”

“Dibawah sakura ini, kamu ikat jiwamu sendiri, agar tidak bereinkarnasi..”

“Asal bersamamu.. Aku tidak perlu pergi..”

Liu Er berlari menghampiri sang dukun desa itu dengan payung di tangannya, wajahnya menyiratkan harap-harap cemas.

“Kakek Ji, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Liu Er, ia memayungi dukun desa tersebut, dan memberikannya selimut hangat.

“Kamu juga membuat janji, kan, disini?” Dukun itu bertanya balik kepada Liu Er, dan dibalas dengan anggukan kepala ragu.

“Kalau begitu, Ling Xhi akan digantikan”

Sang Dukun itu pergi, tanpa menghiraukan Liu Er yang termangu di bawah pohon sakura legendaris itu. 

Ia tidak bisa bertanya, apa maksudnya pada sang dukun desa itu, karena kemungkinan besar, ia sudah tahu jawabannya.

....

Kembali ke jaman 50 tahun yang lalu.
Tempat dimana janji suci itu dibuat, lamaran dilayangkan, namun belum ada kepastian. 

Seorang wanita bernama Ling Xhi, menunggu seseorang dibawah pohon bunga sakura legenda, sambil menyatukan kedua tangannya, bertingkah malu-malu.

[“Aku menyukaimu”]

[“Temui aku dibawah pohon bunga sakura dan membuat janji nikah denganku”]

Satu hari terlewat lagi, untuk penantian yang tak pasti. Tiada hari baginya, untuk tidak berdiri di bawah pohon sakura legendaris itu. 

Dari bulan purnama ke bulan sabit, dan dari musim panas hingga kembali ke musim semi. 

Kegiatannya sehari-harinya seakan bisa menunggu, ia menghabiskan waktu untuk berdiam di tempat itu. 

Tanpa ia sadari, kalau jiwanya sudah lepas dari raga, setelah sekian lama. Tepat setelah 10 hari ia mengutarakan cintanya.

Pemuda itu bernama Ji Yue, berdiri dengan buket bunga Lily di tangannya, dihadapan makam seseorang. Sudah setahun sejak saat itu, kematian wanita yang sangat ia hormati, bagaikan ibu, kakak, keluarga, maupun cinta pertama. 

Ia menyiramkan arak pada makam tersebut, setelah itu meletakan bunga Lily di atas makamnya.
Ia pulang dengan perasaan hampa, tangan kosong, dan juga pikirannya. 

Kakinya menuntunnya, berjalan kearah hutan, tempat dimana pohon sakura legendaris berdiri dengan tegaknya. 

Tanpa ia sadari, ia menyadari dihadapannya ada sepasang kaki seseorang saat pandangannya sedang merendah kebawah tanah.

“Ling Xhi?”

Ia adalah wanita yang ia cintai dengan sungguh-sungguh, namun berakhir dengan tidak bersamanya, sampai akhir hayat. 

Ingin rasa memeluknya namun.. Ling Xhi, wanita yang ada dihadapannya ini hanyalah udara kosong, ia hanya bayang-bayang dari fatamorgana pria itu. 

“Kenapa baru datang?”

“Aku sudah menunggu sangat lama disini, hampir satu tahun”

“Setidak suka itukah kamu padaku?”

“Aku.. tahu kalau aku mati, tapi menunggumu rasanya seperti hidup”

Ji Yue, pemuda itu hanya menatapnya nanar berkaca-kaca, bibirnya berkali-kali membisikkan kata “Maaf”, tangannya menggapai seakan-akan pria itu ingin memeluk sosok dihadapannya itu. 

Namun ia tidak bisa, permintaan maafnya pun tidak terdengar. Dimata Ling Xhi, sang roh, Ji Yue hanya berdiri dihadapannya, dengan pandangan datar tanpa ekspresi.

“Disini, aku tidak bisa bereinkarnasi”

Ji Yue terkejut mendengarnya, ia menatap roh Ling Xhi dengan pandangan tidak percaya, 

“Tidak..”

“Jadi aku tidak perlu bertemu lagi denganmu”

“Tidak.. Ling Xhi! Aku-aku!”

“Kalau tidak ada lagi yang mau kamu katakan.. Aku pergi”

...

Ling Xhi menjadi ibuku, kakakku, keluargaku, dan cinta pertamaku. 
Saat peperangan antar saudara dimulai, Ling Xhi adalah pelayan di rumahku. Usia kita terpaut 8 tahun, ia menjagaku setelah peperangan itu berlangsung di sebuah desa bertanah sakura. Desa indah yang terasing, tempat bagi para pelarian seperti kita untuk berlindung dari kejaran orang-orang itu.

Ia akan menyanyikan lagu pengantar tidurku, lagu yang biasanya akan dinyanyikan oleh ibuku. Dengan begitu, setiap malam, ia menjadi ibuku. 

Ling Xhi akan mengajariku membaca kosakata dan sajak, dan ia akan memarahiku kalau aku berbuat salah, dengan begitu ia menjadi kakakku.

Dan ia menjadi cinta pertamaku, karena itu semua.

...

Untuk wanita yang kuhormati, bagaimana bisa aku hanya melamarnya dengan sederhana?

Atau itulah yang kupikirkan.. 

Tanpa tahu, kalau wanita yang kucintai memiliki batas waktu. 

Ia mati, dalam tidurnya, akibat Hypothermia saat badai salju melanda desa. 

Rumahnya yang memiliki celah berlubang, tidak mampu melindunginya dari dingin badai salju yang menerjang. 

Bahkan ketika aku sampai di rumahnya, semuanya sudah rata dengan tanah, hanya menyisakan tubuhnya yang putih pucat membeku, akibat penurunan suhu.

Kepergiannya bagaikan mimpi buruk untukku, yang tidak akan pernah aku lupakan bahkan ketika aku terbangun.

Baik dia dan Rohnya yang sangat menginginkan aku untuk menerima pernyataan cintanya, tidak bisa pergi kemana pun untuk menghadap sang kuasa. 

Ia tidak bisa bertemu Tuhan, karena janji yang ia buat, dibawah pohon sakura.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 9

Chapter 6