Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

Chapter 6

 Chapter 6 Sosok Benjamin yang membicarakan tentang adiknya itu terlihat sangat bahagia. Hingga di titik dimana kamu harus mengiyakan pembicaraannya mengenai adiknya itu. Dan secara alami, rasa ingin tahu Elvin pada Irene semakin besar. Bagaimana bisa gadis kecil itu mampu meluluhkan hati Benjamin? “Karena itu adalah orang yang sangat kamu sayangi, dan sebagai sahabatmu, aku pikir aku perlu memperkenalkan diriku padanya" “Sahabat…” “Iya, Sahabat" Benjamin ingin menolaknya, tetapi ia ragu. Karena, hanya putra mahkota jugalah yang bisa dia anggap sebagai temannya. “Tapi, Irene tidak akan datang" "Kenapa?!" Elvin tampak kecewa berat. Benjamin tersenyum penuh kemenangan. Benjamin tidak tahu kalau ia akan sangat bahagia mengatakan kalimat itu. "Karena dia sedang flu" "Ah" "Akan jadi masalah besar jika demamnya menulari anda, Yang Mulia" "Tapi aku tidak masalah" “Tapi saya yang tidak baik-baik saja" "Aku t...

Chapter 1. Roh Sakura

Seiring dengan bergantian musim, suara-suara pun mulai hilir berganti. Rasanya seperti setiap hari, aku akan mendengarkan tangisan bayi yang baru lahir di tanah sakura ini. Suara tawaan riang nan gembira datang menghampiri, seolah mengajakku untuk menikmati suasana.  Namun aku.. aku... kakiku tidak bisa meninggalkan tanah ini, yang lagi lembab dan juga merah muda, tertutup kelopak bunga sakura. Aku menunggu dibawah pohon sakura, menunggu sesuatu, yang sudah lama aku tidak jumpa, sesuatu yang sudah aku lupa..  Dibawah pohon sakura ini, aku.. terduduk, terdiam, tak bisa berbuat apapun pada tanah sakura ini. Meskipun tangisan bayi, akan terasa seperti kehidupan baru. Meskipun tawaan anak kecil, akan terdengar seperti ajakan baru. Namun aku, kehadiranku tercipta hanya untuk menunggu. Menunggu sesuatu yang aku luput akan apa itu.. ... “Kapan ya aku bisa bersajak sepertimu, Kak Liu..”  Luo Bo, anak kecil dengan cepol 2 di rambutnya terdengar mengeluh pad...

Cherry Blossom in Sunday

Adakah manusia yang menikmati masa-masa penantian? Kebanyakan orang akan mengatakan, "Tidak"  Tapi ada juga orang yang menikmati prosesnya dalam menuju penantian tersebut.  Atau malah ada orang yang takut dengan saat-saat kepastian itu terjadi, makanya ia lebih suka menunggu. "Pohon Sakura ini sudah 500 tahun lamanya telah menjadi saksi dari sumpah atas cinta-cinta abadi" Atau itulah yang dikatakan Ji Yue, sang dukun di desa bertanah penuh dengan kelopak sakura itu. Namun pastinya para penduduk asli desa itu tahu benar sejarah pohon tua itu, meskipun cerita awalnya akan terdengar romantis, tapi siapa yang akan berani membuat sumpah di bawah pohon legendaris itu? Hanya orang awam yang berani melakukannya. Tak terkecuali Liu Er. "Pohon itu pernah bersumpah, ia akan mengikat jiwa orang yang berani membuat sumpah dibawahnya, baik sumpahnya itu dilaksanakan atau tidak" Dalam kenangan Ji Yue tentang pohon itu, 40 tahun yang lalu. Seorang wanita berna...

Chapter 5

  Chapter 5 Haruskah aku memberinya salam? Atau… haruskah aku menutup pintu, lalu keluar? Bagaimanapun situasi ini aneh.. Ketika Irene dalam masalah dan gelisah, ia mendengar suara di lorong. "Nona Irene!" "Astaga, itu Beth!" Aku sepertinya ketahuan karena keluar dari kamarku. Irene bergegas masuk kembali ke kamar Benjamin dan menutup pintu dengan keras. “Nona Irene? Anda dimana?” Tepat setelah suara Beth perlahan-lahan terdengar menjauh dari kamar Benjamin, Irene menghela napas lega. Kalau aku bertemu Beth sekarang, aku pasti akan langsung diseretnya ke kamar. "Irene... Webber?" Tiba-tiba, suara lirih datang dari belakang punggungnya, Irene segera berbalik dan tersenyum canggung. Senyuman untuk menutupi rasa malu, tapi tidak berhasil dengan baik. "Ah, anu... " Ketika dia pikir, ia harus membuat alasan, dan mencoba membuka mulutnya, namun setelah itu, Pintunya terbuka lagi. 'Beth?' Irene segera menoleh ke belakang dengan takut...

Chapter 4

  Chapter 4 “Tapi.. Putra Mahkota akan jadi Kaisar nanti, kan?” Benjamin mengangguk, membiarkan Irene untuk terus berbicara. “Makanya, aku merasa tertarik. Te-Tentunya dari sisi baik!” Aku tadinya tidak pernah berpikir untuk menikamnya dari belakang dan menjauhkan Benjamin darinya, dan tadinya aku tidak pernah berpikir dia adalah orang yang brengsek dan juga Tuan yang buruk. Tolong percayalah padaku, kak. “...Sisi baik?” "Iya! Dari sisi bagus" Irene mencoba tersenyum setulus mungkin, untuk meminimalkan kecurigaan kakaknya terhadap dirinya. “Ah, maksudmu semua itu dipersiapkan untuk masa depan?” Untungnya, bujukannya berhasil, dan Benjamin menjawab dengan senyum cerah. “Be-Benar! Aku sedang menyiapkannya!" Fiuh. Irene menghela nafas lega. "Tapi aku sedikit khawatir" Khawatir? "Bukan hanya Kaisar saja yang bertanggung jawab untuk Kerajaannya nanti, dia juga tidak bertanggung jawab atas semua pekerjaannya sendiri." "Aku tahu itu, kak!...