Langsung ke konten utama

Postingan

Update

Novel

Postingan terbaru

Chapter 2

 Chapter 2 "Tuanku, anda di sini," Aku berhasil mengalihkan pandanganku dari anak laki-laki itu setelah sekertaris Duke menyapa Tuannya.  Tapi keelokan laki-laki itu membuat kesan yang kuat sehingga baru sebentar aku menoleh, aku sudah kembali memperhatikannya lagi. Rambut hitam dan mata emasnya bersinar seolah-olah mencoba mendominasi pikiranku. "Lucian," Duke memanggil anaknya dengan suara yang dingin, intonasinya tidak sama seperti saat ia memanggilku. Atmosfer disekelilingku pun terasa berat. "Ya, Ayah," “Kenapa kamu di sini?” Anak laki-laki yang tadinya menundukan kepalanya, mengangkat kepalanya, menatap wajah pria yang dipanggilnya Ayah. Namun ia malah menatapku, bukan pada ayahnya. Dan menjawab,  "Saya dengar kabar, sang adik akan datang," “……hmm.” Menanggapi perkataan anaknya itu,  sang duke secara langsung bertanya apakah anaknya itu menyukai situasi ini. “Iya.. Karena sudah lama Ayah tidak melakukan hal yang Ayah sukai. Jadi...

Chapter 4. Kehampaan yang sunyi

Sudah satu tahun berlalu, Luo Bo dengan giat menulis semua buku perpustakaan yang ia pinjam ke buku catatannya.  Perasaannya membuncah, ia merindukan kakaknya dengan sangat. Kadang ia bertanya, Kenapa ia tidak pulang-pulang, padahal gurunya di akademi sudah memberikannya waktu libur setiap minggunya.  Namun itu tidak cukup bagi Luo Bo, ia merasa ia harus pulang dengan predikat sebagai oleh-oleh kepulangannya. Makanya ia terdiam di akademi selama setahun, tanpa menemui kakaknya lagi di kampung halaman. “Kamu begitu, apa kakakmu mengerti?” seorang remaja disebelahnya berpangku tangan, menatap Luo Bo malas. Ia menghela nafas, lalu kemudian menguap. “Aku tidak sepintar kamu, Xin. Usahaku harus lebih banyak” “Bukan masalah usaha saja” tangan remaja itu langsung menggenggam pundak Luo Bo, lalu memaksa tubuh remaja itu untuk berhadapan dengannya.  Telunjuknya mengarah pada dada Luo Bo, “Tapi disini” “Kalau kamu hanya tahu usaha, tapi tidak memberi makan pada hatimu.....

Chapter 10

 Chapter 10 "Hah?" Elvin terkejut terhadap Irene yang tiba-tiba menghiburnya. Alih-alih menjawab rasa heran Elvin, Irene malah menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa.  Sekarang, tanggung jawab Irene menjadi lebih berat. Kakaknya juga berharga, tapi masa depan temannya juga dalam bahaya.  Dia juga tidak bisa membiarkannya menderita karena bekerja di bawah pimpinan orang seperti Yang Mulia, Putra Mahkota. Syukurlah, baik anak laki-laki ini dan Benjamin masih sangat muda. Dan usia 12 tahun adalah usia yang cukup untuk mengubah masa depan. “Aku benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang Putra Mahkota” Ketika Irene mulai berbicara dan fokus pada bukunya lagi, Elvin benar-benar melewatkan kesempatannya. 'Kenapa kamu perlu tahu lebih banyak tentangku?' Dan, rasa penasaran Elvin pun tidak bisa hilang. Sementara Beth, pelayan pribadi Irene, kembali dengan wajah berseri-seri setelah lama berbicara dengan teman lamanya itu. .... “Nona muda dari kediaman We...