Langsung ke konten utama

Chapter 9

 Chapter 9


Dalam novelnya, Putra Mahkota tersebut digambarkan dengan cara yang berbeda-beda.

Seperti 'Memiliki figure baik yang dikagumi semua orang'.

'Senyuman ramah yang mampu melemahkan kekerasan hati orang-orang'.

'Ototnya yang keras diam-diam terasa saat bersentuhan'.

'Aku menyapu garis rahang yang indah itu dengan jari-jemariku' (Deskripsi selanjutnya).

Namun itu semua adalah deskripsi yang tidak berguna.

Bukan hanya kurang objektif, tapi juga tidak berlaku untuk Putra Mahkota, yang masih kecil.

Jadi satu-satunya informasi yang valid adalah rambut hitamnya dan dia memiliki mata hijau seperti permata.

Ada begitu banyak pria serupa di dunia ini.

Pertama-tama, anak laki-laki di depannya sekarang juga memiliki rambut hitam dan mata hijau.

Begitu pula dengan pustakawan yang bekerja di perpustakaan.

Beberapa saat yang lalu, ada seorang anak laki-laki berambut hitam di antara mereka yang berbicara buruk mengenai Benjamin, tapi aku tidak dapat mengingat warna matanya.

"Kamu baik-baik saja?"

Irene menganggukkan kepalanya dengan lesu.

"Iya, sejauh ini"

Gadis kecil itu menghela nafas tanpa ia sadari.

“Aku ingin tahu lebih banyak tentang Putra Mahkota, sedetail mungkin, tapi sepertinya tidak mudah..”

Irene bergumam dengan suara yang amat kecil. Memastikan kalau tidak ada seorangpun yang mendengarnya.

Namun Elvin, anak laki-laki itu duduk tepat di depannya, mendengarkan gumaman itu dengan jelas.

Anak itu tidak lupa mengecek kembali pendengarannya, bertanya pada dirinya sendiri.

'Kalau aku analisis kata-kata tadi dan membaginya menjadi kata-kata...' batin Elvin yang sedang berpikir.

Tapi kenyataannya, kalimat itu tidak berubah menjadi makna yang berbeda.

Dia penasaran dengan Elvin.

“Huh, Putra Mahkota, kenapa…??”

Jarang-jarang Elvin tergagap saat mencoba mengucapkan sesuatu dan merupakan sesuatu yang canggung juga menyebut dirinya sendiri, "Putra Mahkota".

“Oh, kamu dengar?”

Irene, yang mengangkat kepalanya dengan ringan, tersenyum sambil memiringkan kepalanya.

“Aku hanya bicara sendiri. Tidak ada apa-apa"

'Tidak, jawabanmu itu lebih menggangguku..' batin Elvin sedikit gusar.

'Sepertinya aku tidak bisa bertanya lebih banyak..'

Elvin, anak laki-laki itu dapat memahami sekarang sikap halus yang dimiliki Benjamin sejauh ini.

Alasan kenapa kakaknya itu terus mengalihkan topik pembicaraan setiap kali Elvin mulai bertanya tentang Irene.

Mungkin karena Irene, banyak menyimpan artikel tentang Elvin.

'Tapi aku yakin, pasti itu sedikit..'

Elvin meletakkan telapak tangannya di wajahnya sejenak.

Elvin termenung, pikirannya berputar ke sesuatu yang sedikit memalukan dan terlebih lagi dia pun dapat menarik kesimpulan yang bagus.

“Apa kamu tidak nyaman?”

Kali ini, Irene menatapnya dan memberinya kata-kata perhatian.

"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut,"

Elvin langsung menegapkan posisinya dan tertawa. Sekilas, wajahnya sudah terlihat sedikit memerah.

“Kamu terkejut? Kenapa?"

Mata biru Irene yang tampak murni berkedip padanya.

'Dia imut..'

Elvin sempat ingin memberitahukan segalanya pada Irene, setelah terpesona dengan mata jernihnya.

Toh, seluruh anggota keluarganya tahu, kecuali Irene, mengenai Identitasnya. Mungkin, jika ia beritahukan lagi pada Irene, tidak akan ada masalah.

"Sebenarnya..."

Sesaat ada rasa penasaran dalam diri Elvin tentang reaksi Irene nanti, ketika gadis itu tahu mengenai identitasnya.

Ia berpikir kalau gadis itu mungkin akan langsung kegirangan karena Irene sepertinya memiliki banyak pertanyaan.

'Aku penasaran senyum bahagianya seperti apa, aku menantikannya'

"Sebenarnya..."

Aku Elvin Manuel. Orang yang kamu cari-cari.

Elvin membayangkan pengenalan resminya, sebelum memantapkan kata-katanya langsung.

"Aku-"

Hanya tiga kata lagi, namun seseorang tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang.

“… ..!”

Elvin menoleh ke belakang. Mendapati seorang anak laki-laki yang tadi berbicara buruk mengenai Benjamin.

Beraninya kamu memotong saat-saat terpentingku...?! 

Ia membuatku semakin membencinya dengan melakukan hal ini..!

Namun tidak berarti Elvin mengungkapkan kemarahannya, ia masih bersikap selembut mungkin.

"Ada apa?"

Meskipun suaranya terdengar baik,  tapi itu tidak berlaku terhadap ekspresinya. Dan bocah yang menepuk pundak Elvin tadipun tampak ketakutan.

'Ada apa dengannya..?'

Anak itu segera menyadarkan diri. Dia kemudian menyembunyikan tangannya yang gemetaran dengan melipat tangannya, mengangkat dagunya tanpa alasan, dan memasang wajah yang merendahkan seseorang.

"Kamu,"

Hal pertama yang jelas anak laki-laki itu katakan adalah memperlakukan Elvin seperti bawahan.

"Aku memang tidak suka keributan sebelumnya, jadi aku biarkan"

Kamu membiarkan walaupun kamu tidak suka?

Elvin kembali mengingat punggung bocah ini saat dia melarikan diri.

Mungkin dia memiliki sesuatu untuk membalas perkataannya tadi, makanya sekarang anak ini kembali.

Elvin hanya menatapinya, 'Aku akan dengarkan bualannya lagi'

"Aku pikir, kamu pasti tidak tahukan mengenaiku"

Suaranya menunjukkan kepercayaan diri sedikit demi sedikit.

“Kejeniusan Duke Blake adalah yang terbaik di negeri ini. Dan aku adalah penerusnya"

Dia menunjuk kancing emasnya dengan sebuah simbol yang terpatri disana.

Kancing-kancingnya memiliki simbol berbentuk elang kecil. Dan simbol itu benar adalah simbol Duke, Irene mengenalinya dari koran.

'Artinya dia Roger Blake!'

Roger berkata dengan suara penuh penekanan. Biasanya, ketika dia melakukan itu, dia akan langsung mendapatkan perhatian.

Karena keluarga Blake adalah salah satu keluarga paling bergengsi di Kekaisaran Terence.

“….”

Namun kali ini, perhatian seperti itu tidak muncul nampak di wajah Elvin.

Tapi Roger tidak menyerah.

“Kamu adalah bangsawan miskin yang selalu mengikuti Benjamin selama kontes berburu, kan?”

"Bangsawan miskin, yang tidak membaca koran atau buku tentang Kotanya sendiri"

Elvin tidak bergeming sama sekali, bahkan ketika Roger mengatakan kalau ia berasal dari keluarga Blake.

Maka dari itu, Roger memutuskan untuk memberikan nasihat yang tepat kepada Elvin yang ia anggap sebagai bocah desa.

“Sebaiknya kamu pikirkan lagi. Karena, kecerdasan Duke Blake itu adalah yang terbaik di negeri ini. "

Elvin menggigit bibirnya.

Itu untuk menahan tawanya, tapi Roger tampaknya menganggap itu sebagai menahan penghinaannya.

"Aku tahu kamu adalah pengikut Benjamin Webber, karena kamu mengikutinya setiap saat,"

Anak laki-laki itu menyeringai dan menambahkan nasihatnya lagi.

“Aku mengerti kamu mengagumi si jenius itu, tapi sebaiknya kamu pikir-pikir lagi.. Meskipun mereka bangsawan, tapi bangsawan juga memiliki tingkat martabat dan moderat yang berbeda"

Anak laki-laki itu menegakkan dadanya dan tertawa lagi.

Seolah harga atau keanggunan yang dia miliki terpatri jelas di kancing permata di pakaiannya.

“Aku harap kamu paham, perkataanku. Sehingga ini tidak terjadi lagi”

Roger tersenyum puas seolah menang dengan membuktikan dirinya kepada orang lain.

Irene sedikit memiringkan kepalanya seolah dia tidak nyaman.

“Sejak kapan pembenaran gosip, dapat di menangkan hanya dengan seseorang menunjukkan jabatannya..”

Meski dikatakan dalam volume kecil, tapi pasti terdengar di telinga Roger Blake. Dan memang, itu dimaksudkan agar dia mendengar.

"Kamu.."

Wajah Roger benar-benar berubah, tapi dia tidak bisa berkata-kata lagi. Karena kata-kata Irene memang benar.

“Siapapun kamu, kamu akan menyesal!”

Sekali lagi, anak laki-laki itu berhasil mengatakan dialog klise seorang penjahat dan berbalik melarikan diri.

Namun terhadap teman-temannya yang berdiri jauh dibelakangnya, dia berpura-pura berani, sambil berlagak seakan ia memotong leher dengan tangannya, dan pamer sambil berteriak, "Aku sudah mengalahkan mereka!"

"Cih, dasar kekanakan,"

Irene mendecakkan lidahnya dan mengingat namanya lagi.

Roger Blake.

Duke Blake…

Lalu secara tidak sengaja, iklan pekerjaan yang Irene baca beberapa waktu lalu terlintas.

「Duke Blake mencari pegawai kantoran. Keuntungan tinggi dengan kontrak jangka pendek, jam kerja fleksibel」

Ah, perusahaan keji itu..

Artinya apa yang dilakukan orang-orangnya  tidak berbeda dengan para pebisnis rakus di Korea.

Mereka bahkan berani menjelek-jelekkan orang lain.

"Jangan pedulikan orang seperti itu,"

Elvin meyakinkan Irene dengan lembut.

“Aku tidak perduli dengan apa yang dikatakan orang lain, kenyataannya adalah aku tetap menyukai Benjamin. Sejauh aku bersamanya"

“Sejauh kamu bersamanya..?”

Dia mengangguk perlahan.

“Apakah kamu sekarang ada di kota karena alasan itu?”

“Hmm… itu tidak salah,"

'Jangan katakan, orang ini,'

Irene dengan singkat mengingat kilas balik novel itu.

Sementara Elvin Manuel, yang malah sibuk dengan fantasi percintaannya, Benjamin yang malang telah melakukan banyak pekerjaan sebagai asisten senior.

Sekertaris Putra Mahkota adalah posisi yang cukup tinggi, tapi kan pasti ada beberapa bawahannya Benjamin juga.

'Tidak mungkin..'

Irene menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.

Anak laki-laki di depan matanya kemungkinan besar adalah bawahannya yang malang yang akan bekerja dengan Benjamin untuk dimasa depan.

Bukankah sudah jelas orang yang datang jauh-jauh dari pedesaan ke Ibukota itu tujuannya apa..

Benjamin, kakaknya yang baik dan naif itu, tidak akan mengabaikan persahabatan yang pahit ini, pasti kakaknya itu pasti membantunya untuk bekerja sama.

Aku tidak pernah bermimpi pertemuan ini akan menjadi pintu masuk neraka yang berdampingan.

Benjamin, akan menjadi bosnya, dan kakaknya itu tidak akan berhenti bekerja, dan orang ini juga artinya tidak akan pulang kerja.

Kalau begitu, keadaannya jauh lebih buruk ketimbang Benjamin. Dia bahkan tidak memiliki penamaan di novelnya

Ah, berapa banyak budak kerja sih dalam novel ini?

Irene sangat sedih sampai dia ingin menangis. Karena ada terlalu banyak tirani.

“Mmm.. Irene?”

"Semangat, ya?"

 


 


Postingan populer dari blog ini

Chapter 6