Tiba saatnya untuk mengucapkan perpisahan pada Luo Bo yang sudah menginjak usia 14 tahun.
Ia akan mengembara dan belajar untuk menjadi dukun dari desa kecilnya, yang bertanahkan kumpulan kelopak bunga sakura.
Liu Er hanya bisa tersenyum melihat kepergian adiknya yang perlahan menjauh dari pandangannya, kemudian baru meneteskan air mata, ketika Luo Bo benar-benar hilang bayangannya.
[“Aku akan pulang setiap hari Minggu!”]
Janji Luo Bo pada kakaknya, ketika mereka tengah memakan bakpao ubi dipagi hari. Makanan Luo Bo sebelum pergi belajar keluar desa.
Kakaknya yang mendengarnya hanya tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan saat adiknya mulai berkicau, betapa ia sangat menantikan untuk belajar keluar desa mengejar cita-citanya.
‘Apa aku ada hak untuk melarang? Keluarga yang baik bukan menjadi penghalang harapan’ batinnya, sambil menggerus daun teh kering dalam wadah.
Matanya melihat keluar jendela, tirai jerami itu sedikit terbuka, kelopak bunga sakura masuk melalui celahnya.
‘Ini bahkan belum lewat satu hari, tapi aku sudah merindukannya..’
Ketika air panas dituangkan diatas daun teh gerusan yang kering, aromanya mulai menguar, mengisi seluruh pondok kecil itu.
Pria tua yang menunggu di bangku depan, menoleh ke belakang, seiring dengan langkah kaki anggun yang perlahan mulai berjalan kearahnya.
“Kakek Ji, ini tehnya” ujar Liu Er lembut, menyajikan gelas teh pada dukun itu dengan hati-hati.
Pria tua itu menadahnya, lalu menaruhnya di samping duduknya, tehnya masih terlalu panas untuk ia nikmati.
Liu Er mengambil tempat untuk duduk di sebelah pria tua itu, memposisikan dirinya agar terlihat sopan disamping sepuh desa.
“Saya terimakasih, sekali lagi, atas ajaran Kakek Ji pada Luo Bao”
“Hari ini sudah tiga kali” jawab Ji, ia menadahkan teh panas itu lalu meniupnya pelan.
“Kamu pasti rindu, kan?”
Terkejut, Liu Er langsung menoleh kearah pria tua Ji yang perlahan menyeruput teh panasnya.
“Saya?”
“Ini bahkan belum sehari..” sanggah Liu Er, dengan nada tertawa kecil disela kalimatnya.
“Memang seperti itulah rasanya.. Keluarga” Ji berucap, ia memandangi pohon Sakura legendaris yang dekat dengan kediaman Liu Er.
“Saat itu, aku hanya pergi..”
“Eh?” ucap Liu Er bingung, ia seperti mendengar sesuatu dari mulut sang dukun desa ini.
Namun pria tua itu hanya tersenyum, ia menyeruput tehnya lagi dengan tenang, suasana yang dibawakan oleh pria tua itu benar-benar bersahaja, tanpa sadar Liu Er pun ikut menikmati suasana tenang di pondoknya sendiri, suasana yang tidak pernah ia rasakan ketika masih ada Luo Bo yang ribut, suasana tenang nan sepi senyap.
‘Aku pikir kapan hari minggu akan tiba..’
...
Namun di hari Minggu pun, Luo Bo tidak pulang.
Liu Er berpikiran positif, ia berjalan santai ke tanah lembahyung di sudut desa. Ladang bunga lavender.
Banyak para orang tua di desanya, namun mereka tidak bisa tahan dengan nyamuk namun juga tidak bisa memetik lavender karena baunya yang membuat mereka mengantuk.
Jadi inilah penghasilan Liu Er, bunga-bunga lavender ini akan ia barter dengan daging, bakpao, dll sebagainya untuknya makan.
Ketika ia sampai ditanah lembahyung, matanya menangkap siluet seseorang.
Ia memakai topi caping lebar,dan tas bawaan yang besar, seiring siluet itu berjalan, ia malah terlihat melambaikan tangan, Liu Er semakin merasa kalau bayangan di ladang lavender ini mirip dengan adiknya, Luo Bo.
“Kak Liu!”
Sayup-sayup suara panggilan yang tersampaikan gemanya oleh angin. Siluet itu makin lama makin terasa dekat. Sampai akhirnya menampakkan wujud asli dirinya.
“Luo Bo?”
“Kak Liu!!”
Mereka berpelukan, satu sama lain saling menaruh tangan di punggung masing-masing.
Luo Bo, remaja laki-laki yang energik itu langsung melompat-lompat seraya memeluk kakaknya, membuat barang di dalam tasnya berjatuhan kemana-mana.
“Kenapa baru pulang sekarang, adik bodoh..”
“Maaaaf.. Di jalanan ramai pelajar, semuanya pulang saat hari Minggu..”
...
Malamnya, mereka makan bersama ditemani nyala lampu damar dan juga lilin besar yang terang. Bunga-bunga lavender yang dikumpulkan mereka berdua, ditukarkan dengan satu ekor ayam.
Liu Er menyajikan bahan masakan yang mahal untuk menyambut kepulangan Luo Bo hari itu.
“Aku pulang hari Minggu, tapi sampai rumah sore hari.. Besok pagi harus berangkat lagi..” keluh Luo Bo, seraya memutar-mutar paha ayam rebus diatas piring. Ia tampak sangat kelelahan, terlihat jelas dalam sorot matanya.
Liu Er tentu melihatnya dan mengerti sejak pertama kali melihat kepulangannya itu.
“Jangan mengeluh, jalan menjadi dukun itu sama seperti petapa kitab, mereka harus bersih dari segala pikiran jelek”
“Kalau tidak, kamu tidak akan mampu menguasai indera keenam”
Luo Bo pun langsung menepuk kedua pipinya sampai memerah, ia kembali tersenyum cerah, meskipun terlihat sangat dipaksakan.
Beberapa detik, lalu menghela nafas kembali, ia dengan cepat menghabiskan paha ayam di tangannya itu.
“Untuk sekarang, bolehkah aku mengeluh dulu? Aku kan murid baru?” pinta Luo Bo pada Liu Er memasang tampang imut.
“Tidak, pelatihan awal adalah dasar dari hasil” jawab Liu Er, lalu tersenyum kembali ketika melihat reaksi Luo Bo yang cemberut.
“Makanya aku masakan ayam”
“Agar kamu bisa berenergi lagi” ujar Liu Er menatap Luo Bo dalam diam, seraya menampilkan senyum.
“Kamu tidak usah berkunjung seminggu sekali, itu akan melelahkanmu”
“Kamu, fokus saja belajar menjadi dukun, baru kembali lagi kesini” ucap Liu Er, ia menggapai puncak kepala Luo Bo dan mengelus rambutnya lembut.
“Benarkah? Aku tidak perlu berkunjung seminggu sekali?” tanya Luo Bo dengan nada ragu.
“Kalau kakak rindu bagaimana?” Luo Bo tersenyum jahil ketika mengatakannya.
“Kakak justru berterimakasih, soalnya kakak tidak perlu membarter ayam sampai tiap minggu” ujar Liu Er santai, dan disambut dengan raut wajah cemberut Luo Bao.
...
Dan obrolan santai makan malam itu menjadi kenyataan, malam itu adalah kali terakhir Luo Bo makan bersama dengannya.
Luo Bo tidak pulang di minggu berikutnya, dan di minggu berikutnya lagi.
Dan satu tahun pun berlalu, Liu Er bermimpi, tentang seorang pria dan wanita yang saling berjalan dengan santai dan bahagia mengelilingi pohon sakura legendaris, beralas tanah bunga es berwarna putih.
Pria itu gagah, mengiringi wanita yang memegangi payung agar dapat berjalan bersamanya.
[“Penantianku yang menunggumu melamarku itu seperti pohon sakura ini”]
[“Terlalu besar, terlalu indah, untuk diwujudkan”]
Wanita itu berujar sambil melihat kearah pria yang tengah memegang payung untuk sang wanita.
[“Kalau ingatanku sirna Ji Yue, kau boleh pergi”]
[“Aku sudah tidak menginginkanmu”]
[“Pohon ini sudah jadi rumahku, janjiku, dan.. perwujudan dari penantian yang tidak tercipta darimu”]
[“Aku wajar, kau tidak menerimaku sampai akhir, aku membesarkanmu bagaikan anakku sendiri”]
[“Makanya, tugasku sudah selesai”]
...
Liu Er terbangun dari mimpinya, yang menyadarkannya akan musim dingin, musim yang sepi baginya.
Ia mengangkat tehnya, meminumnya perlahan dan memandangi pohon sakura legendaris itu dalam diam.
“Artinya.. Tugasku juga sudah selesai..”
Komentar
Posting Komentar
Budayakan berkomentar yang sopan ya.. Soalnya, penulis disini mentalnya lemah, belum di ospek