Chapter 8
Kebetulan yang cukup aneh, ada dua orang yang muncul disaat bersamaan meneriakan hal yang sama,
"Jangan bicara omong kosong!"
Salah satu bocah yang bergosip tersebut membuka suaranya.
"Kalau begitu apa?"
Irene ingin mencoba langsung memberitahunya,
Tapi anak laki-laki dengan rambut hitam segera memotong niat Irene.
"Saat itu sedang diskusi tentang teorema Jennings"
Irene langsung menatap anak laki-laki berambut hitam itu, dalam diam.
“Ada perkataan yang keluar dari mulutnya selama kelas berlangsung”
Irene akhirnya menyadari apa yang dia bicarakan. Anak lelaki ini mencoba untuk mengatakan kejadian tentang Bagaimana Benjamin mengeluarkan Profesor tersebut saat itu.
“Sepupumu mungkin hanya melebih-lebihkan kejadian yang sebenarnya, karena dia merasa dilecehkan oleh anak yang usianya lebih muda darinya”
"Selama masa pembelajaran, Benjamin mengoreksinya karena ada yang salah dalam penjelasannya"
"Professor itu mungkin kesal, karena ia dikoreksi oleh anak 12 tahun, maka dari itu ia berhenti dari pekerjaannya sebagai tutor"
"Dia bilang kepada orang-orang, 'Setelah aku keluar sebagai Tutornya, aku sudah banyak melakukan absen, dan aku mengalami trauma saat hanya berada sekitar kediaman Webber' ”
"Tuh kan!" Irene merespon cerita anak lelaki berambut hitam itu dengan spontan.
Anak laki-laki itu kemudian menambahkan senyumannya sesekali.
"Tapi selama ini, Benjamin tetap diam demi reputasi tutornya"
"Meskipun Tutor itu akhirnya malah menyebarkan kata-kata kasar terhadap Benjamin"
Lalu, anak laki-laki berambut hitam ini memiringkan kepalanya dan tertawa. Tertawaan kecilnya terdengar seperti cibiran.
“Oh benar, kalian kan tidak tahu kalau ternyata sepupumu itu sebenarnya yang sedang membual, kan?”
Salah satu anak laki-laki yang bergosip tadi kembali mengeluarkan argumennya.
"Benjamin Webber lah yang sedang membual"
"Dia hanya membual betapa hebatnya dia"
Irene bertepuk tangan tanpa sadar saat emosinya yang tak tertahankan mendidih.
Bagaimana mungkin orang-orang disini begitu hebat dalam meyakini hal yang jelas-jelas sudah salah?
Rasanya aku ingin mengambil tongkat apapun itu dan memukulkannya pada kepala mereka satu persatu.
Tepukan tangan Irene sampai terdengar ke seluruh ruangan perpustakaan, langsung menjadi pusat kegaduhan.
Perpustakaan yang tadinya penuh akan orang-orang dan sibuk dengan dunianya masing-masing, langsung menjadikan Irene sebagai pusat perhatian.
Ada pustakawan yang diam-diam memperhatikan, dan juga gerombolan anak laki-laki yang tiba-tiba berlari mendekat ingin memperhatikan.
Mereka, gerombolan anak-anak yang bergosip tentang keburukan Benjamin, perlahan-lahan melarikan diri dan berlari, sambil mengatakan, "Awas saja kalian nanti!"
Sebelum Irene menyadarinya, ternyata hanya tersisa mereka berdua saja.
“Terima kasih telah membela kakakku"
Namun anak laki-laki berambut hitam itu malah tertawa ketika Irene mengatakan, 'Kakak'.
"Ada yang lucu?"
“Tidak, hanya saja…”
'Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi si cerdas Benjamin itu, nantinya' batin anak laki-laki dihadapan Irene ini.
"Senang bertemu denganmu, Irene Webber"
Anak laki-laki yang diketahui Irene sebagai teman kakaknya ini menyodorkan tangannya, mengajak salam berkenalan.
Gadis itu pun dengan senang hati, langsung menerima uluran tangannya.
....
Teman Benjamin itu, langsung mengikuti Irene dan duduk di sampingnya.
Tentu, Irene diajarkan untuk tidak berbicara atau berhubungan dengan orang asing, tetapi Gadis itu yakin kalau anak laki-laki ini pengecualian.
'Aku bahkan ingin membicarakan banyak hal dengan teman kakakku'
Benjamin adalah hal yang paling Irene sukai di dunia ini, dan sekarang, gadis itu kebetulan bertemu seseorang yang juga mendukung kakaknya tersebut.
Menjadi fans itu akan terasa menyenangkan saat kamu mendukungnya bersama orang lain. Dan Irene sangat senang bertemu dengan orang yang juga mendukung orang yang dia sukai.
[“Oh benar, kalian kan tidak tahu kalau ternyata sepupumu itu sebenarnya yang sedang membual, kan?”]
Wow, bagaimana bisa kalimat seindah itu bisa ada?
Aku jelas bisa merasakan ketulusannya ketika ia mengutarakan nya dengan nada meremehkan.
"Aku biasanya tidak akan ikut campur dengan pembicaraan seperti itu, karena merepotkan"
Tapi mau bagaimanapun aku memikirkannya, sepertinya tidak pernah disebutkan ada teman Benjamin yang begitu sangat membelanya seperti ini...
'Tapi, sepertinya anak ini cukup dekat dengan kakak, Dia bahkan sampai mengundangnya ke rumah'
Tapi tidak ada salahnya juga, kalau Benjamin ternyata dekat dengan seseorang.
"Ya seperti yang kamu tahu"
Dia berbicara kepada Irene dengan hati-hati.
"Aku cenderung tidak peduli dengan orang yang baru saja aku lihat"
Anak laki-laki itu melihat ekspresi Irene, gadis itu menampakkan wajah penuh khawatir, padahal itu adalah ekspresi gadis itu ketika ia sedang fokus mendengarkan.
“Karena ketika aku berucap, aku pasti mengeluarkan racun yang sering menyakiti orang-orang. Ah… maksudku..”
Anak laki-laki itu pun berpikir kalau kata-katanya mungkin agak sulit untuk Irene yang masih berusia 8 tahun, jadi dia mulai mencari kata lain untuk menjelaskan apa yang dia maksud.
"Aku mengerti" jawab Irene dengan cepat.
“Kalau begitu apa kamu tipe orang yang sering dipengaruhi gosip?”
“Oh, pemahamanmu bahkan lebih baik dariku"
"Ada kata-kata yang sama seperti yang ada dibuku kakakku,"
Sebagai balasan pertanyaan Irene tadi, anak laki-laki itu tersenyum.
“Tapi aku sudah tidak perduli lagi"
'Dia benar-benar gadis pemberani' batin Elvin pada Irene.
Apakah aku pernah bertemu orang dari keluarga Webber selain Benjamin?
Apakah sifat mereka semua seperti Irene?
Irene, yang merasa diperhatikan, kembali berbicara.
"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku keluar sendirian"
"Kamu?"
"Iya"
Irene menjawabnya dengan tatapan berbinar-binar.
“Itu sesuatu yang patut diarayakan. Aku mengucapkan selamat padamu dari lubuk hatiku"
"Terima kasih"
"Kalau begitu, Benjamin pasti-"
Elvin memotong perkataannya, dan mulai membayangkan bagaimana reaksi Benjamin saat ini ditinggal pergi Irene.
Elvin tertawa dalam hati.
"Kenapa kakakku?"
“Tidak. Aku khawatir dia menunggu kepulanganmu dengan penuh antusias"
“Kakak itu sedang sibuk. Dia mungkin sedang membaca buku sejarah sekarang"
Elvin rela memakai berbagai jenis topi apapun, tapi jangan pernah menyuruhnya untuk membaca buku sejarah.
'Tapi bisa saja, dia mungkin malah tenggelam dalam rasa khawatirnya. Mungkin dia sedang mengitari pintu depan dan menunggu kereta dengan depresi?'
"Kakak sering masuk ke kamarku, dan langsung membuka buku sejarahnya, lalu bersikap pura-pura tidak peduli"
Elvin tidak lagi mengungkit cerita yang diutarakan Irene, karena ia tahu kebenaran dari sifat sahabatnya itu. Matanya lalu turun dan melihat ke buku yang sedang dipegang Irene.
'Apakah keluarga Webber memang memiliki darah seorang jenius dalam diri mereka?'
Apa yang Irene pegang tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah majalah tentang Sosial Ekonomi, buku yang bahkan orang dewasa pun terpaksa membacanya.
'Tapi dia malah membaca ini saat Kunjungan pertamanya? Dia kan baru berusia 8 tahun'
“Oh, ini?"
Menyadari tatapan Elvin, Irene langsung menunjukkan buku yang sudah lama dibacanya, diperlihatkan kepada Elvin dan menjelaskan.
"Aku hanya sedang melihat-lihat saja"
"Meneliti?"
Irene mengangguk.
“Kalau dipikir-pikir…”
Elvin teringat hari ketika Benjamin bergumam sendiri saat dia melihat ke luar jendela.
「"Kenapa ya Irene sangat menyukai koran?"」
Ketika Elvin menjawab, 'Memang ada apa dengan koran?'
Namun Benjamin menggelengkan kepalanya dengan ekspresi ketus.
「"Yaa.. Soalnya di surat kabar akhir-akhir ini isinya sampah, tapi Irene malah menyukainya. Bahkan sampai mengarsipkannya"」
Entah perasaannya atau bukan, Elvin dapat merasakan kemarahan terselubung yang aneh dari balik nada bicara Benjamin kala itu, Elvin memutuskan untuk tidak menanyakan Artikel apa yang dimaksudkan itu.
“Memang apa yang kamu teliti?”
'Aku memutuskan untuk bertanya pada Irenenya langsung' batin Elvin.
"Katakan padaku apa yang sangat menarik perhatian si jenius kecil ini"
Irene, yang mendengar pertanyaan itu, berpikir sejenak.
'Seberapa jauh aku bisa mempercayainya?'
"Aku hanya sedang mengamati dunia luar"
Jawabannya terdengar ambigu, namun gadis kecil itu juga tidak berbohong.
"Tentang pekerjaan?"
“Ya, tentang pekerjaan”
'Lalu artikel sampah yang dimaksud Benjamin apa?' begitulah yang dipikirkan Elvin ketika mendengar jawaban langsung dari Irene.
Mungkin bagi Elvin, kalau Irene adalah adik kandungnya, anak lelaki itu pasti sudah memuji keingintahuannya.
"Keren.."
Dan Elvin pun langsung memuji Irene.
“Tidak ada yang patut untuk dikesankan, aku hanya sedang melihat-lihat saja"
"Tapi Benjamin bilang, kamu membaca dengan cukup cermat sampai menyimpannya"
“Aku suka mengoleksi hal-hal yang menarik saja”
"Tidak semua orang bisa melakukannya.."
Pujian Elvin berhasil membuat Irene menari-nari.
Tampilannya yang ramah, dan respon yang ia berikan seolah ia menikmati ceritanya Irene, membuat Irene tanpa sadar malah terlarut mengungkit cerita lain.
“Aku sebenarnya sudah berlaganan beberapa surat kabar. Uniknya, setiap surat kabar memiliki cara yang berbeda dalam membicarakan kejadian yang sama”
Misalnya, artikel Putra Mahkota dan jabatannya.
“Dan hal itu membantu juga untuk melihat dari berbagai sudut perpektif”
Irene berbalik dan duduk di dekat Elvin.
"Eh?"
"Hmm.. Dengan begitu sepertinya kamu latihan untuk bisa mempersiapkan segala kemungkinan, ya”
"Benar!"
Mempersiapkan! Itu kata-kata yang tepat untuk mendefinisikan kegiatanku selama ini.
Gadis itu berencana mempersiapkan segala cara untuk mencegah kakaknya untuk bekerja pada Putra Mahkota.
“Tapi aku sulit mendapatkan artikel yang sebenarnya aku inginkan”
Irene bergumam dengan suara yang agak lemah.
Dia sudah datang jauh-jauh ke perpustakaan besar, tapi hanya mendapatkan sedikit informasi baru tentang Putra Mahkota.
Kalau saja aku tahu penampilannya saat ini seperti apa, aku pasti sudah bisa menyiapkan banyak hal untuk dapat menghindarinya..