Langsung ke konten utama

Prolog

Prologue



"Rachel."

Suaranya yang memanggilku terdengar sendu. Ketika dia mulai bicara dengan nada seperti itu, ia berhasil membuatku lupa kalau dia sebenarnya adalah sosok yang selalu tegas dan pemarah. 

Aku merasa tertekan, sambil berpikir keras, aku menggigit bibirku, namun seketika langsung menggelengkan kepala.

Tidak peduli seberapa besar aku mendukungnya, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.

Aku mengambil langkah untuk menjauh dari posisi awalku. Meskipun aku bergerak cepat, aku tetap tidak bisa menjauh darinya yang memiliki kaki lebih panjang dan langkah lebih besar dariku.

 "Kumohon, Rachel"

Dia mencengkeram pundakku, menghentikan pergerakanku yang lari darinya. Ekspresinya seperti ingin menangis, kemudian memelukku dengan sangat erat.

 "Kakak.."

Aku akhirnya memanggil dirinya. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Dan aku pikir, aku tidak akan bisa marah berlarut ketika melihatnya.

Rambutnya, yang seperti langit malam tanpa bintang, berkibar tertiup angin.

Di bawah rambutnya yang hitam pekat, aku bisa melihat matanya yang keemasan bersinar.

Aku tidak bisa memfokuskan diriku untuk melihat kearah lain, selain matanya. Yang terlihat lebih jernih dari permukaan air.

Setelah memperhatikan ekspresi wajahku yang melemah, ia dengan hati-hati membuka mulutnya.

 "Ini salahku.. Maafkan aku."

 "Tidak, apa yang kamu minta?"

Setelah mendesah pelan, aku melihat sekelilingku dan menggapai tangannya dan menggenggamnya. Aku hanya menariknya dengan ringan, tapi dia dengan mudah tertarik mendekat padaku.

Tidak ada orang-orang di lorong karena mereka semua berada dalam perjamuan yang diadakan di istana kekaisaran, tapi aku tetap saja harus waspada.

Karena tidak akan ada yang tahu kapan, siapa, atau apa yang akan mereka dengar.

Kemudian aku berbisik ke dekat telinganya.

 “Jangan melempar sarung tangan ke ruang perjamuan lagi mulai sekarang. Mengerti?"

 “…..”

Tapi dia tidak menjawab. Dia menatapku dengan tatapan seolah-olah dia siap untuk memakanku.

Wajahku terasa ditusuk melihat betapa intens dia menatapku.

Aku merinding karena aku menatapnya dalam diam meratapi wajahnya yang seperti boneka, aku sampai menoleh belakang.

Dia lalu ingin membelai lenganku, jadi dia mencoba untuk melepaskan tangannya keluar dari cengkeramanku, tapi aku menggenggamnya lebih keras.

"Kak.."

Aku memanggilnya lagi dengan tatapan serius di wajahku.

Baru kemudian Lucian yang melihat wajahku, melemaskan tangan yang memegangnya seolah-olah dia benar-benar tidak ingin aku melepasnya.

Dia tiba-tiba membuka mulutnya saat dia membiarkan lengannya menggantung di depan tubuhnya.

Suara sedih yang dia miliki beberapa saat yang lalu sekarang telah berubah menjadi suara yang dingin.

"Aku tidak bisa janji"

"……Kak?"

 Dia tidak pernah melanggar apa yang aku katakan sebelumnya, jadi aku tidak punya pilihan selain diam menatapnya.

Aku terdiam dan berhenti bergerak, sementara tangannya perlahan mulai membelai tanganku, dia kemudian memegang tanganku lagi dan dengan lembut, lalu mengangkat sudut bibirnya.

Ekspresinya saat ini adalah hal yang paling kusukai darinya. Dia yang tersenyum lembut padaku dengan mata penuh perhatian dan kasih sayang.

Namun, ekspresinya yang sekarang, berlawanan dengan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

"Aku benar-benar tersinggung dengan orang-orang ceroboh yang mendekatimu itu. Sebenarnya sarung tangan saja tidak cukup. Aku seharusnya langsung saja... "

Aku melihatnya yang ingin melanjutkan perkataannya itu, tapi akhirnya ia telan, karena aku secara tidak sengaja malah membela pemuda yang mengajakku untuk berdansa tadi.

"Kakak seharusnya tidak melemparkan sarung tangan saat pesta, duel yang melibatkan nyawa juga berlebihan, dan selain itu aku malah khawatir dengan lingkungan pergaulanmu!"

"Dan meminta dansa dalam pesta itu hanyalah formalitas. Mereka kira aku datang tanpa pasangan, jadi mereka hanya memintaku untuk berdansa. Tapi begitu aku selesai berdansa, kakak malah tiba-tiba melemparkan sarung tangan.."

"Bodohnya mereka mengira kamu datang kesini tanpa pasangan, Ray. Pasanganmu itu aku"

 “……”

Aku tidak bisa membantah argumennya yang ini. Pesta ini memang mewajibkan untuk membawa pasangan.

Namun, karena aku datang dengan keluarga sendiri sebagai pasangannya, bisa dibilang kalau aku memang seharusnya berdansa dengannya.

“Kamu kan bisa berdansa denganku”

Lucian melanjutkan kata-katanya dengan hati-hati.

 "Haaah…"

Aku menghela nafas panjang.

Bisakah aku memenangkan argumen dari karakter favoritku sendiri?

Terlebih lagi dia malah menunjukkan tatapan seperti itu padaku. Tapi tetap saja pemuda tadi tidak melakukan kesalahan apapun!

Selagi aku yang masih menatap matanya dengan alis tertekuk menunjukkan kesedihan, aku menarik tangannya.

"Kita pulang, kak"

Sekarang aku sudah mengatakannya, kamu seharusnya mengerti kalau aku yang akan menyelesaikan permasalahan ini.

Namun ia tidak bergerak sedikitpun ketika aku mengajaknya untuk pulang. Dengan terpaksa, aku menarik tangannya sedikit.

Dia baru menurutiku ketika aku sudah bersikap begini.

Tapi aku tidak bisa membuatnya menurut kali ini. Sebaliknya, aku malah ditarik kembali olehnya karena dia menggunakan sedikit kekuatannya untuk menarikku.

Saat itu, heels yang kukenakan sangat tidak stabil sehingga aku rasa aku seperti akan menabrakkan wajahku ke dadanya.

Tapi sebelum wajahku bertemu dengan dada bidangnya yang keras, dia secara otomatis langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.

Lucian menempatkan tanganku ke lehernya dan menatapku dengan tatapan tenang.

Dia terlihat sangat tampan, tidak peduli berapa kali pun aku melihatnya. Aku bisa merasakan pipiku yang memerah karena malu, jadi aku berusaha untuk menjauhkan sedikit posisiku darinya.

Namun pada akhirnya tetap tidak bisa.

Dia menahan lengannya di pinggangku, membuatku menundukkan kepala karena tidak mau kelamaan menatapnya. Sampai akhirnya rambut lembutnya itu malah menggelitik leherku.

Tiba-tiba saja, dadaku jadi berdesir karena perbuatannya itu.

 "...Rachel"

Suaranya memang terdengar seperti musim dingin, namun matanya sehangat musim semi.

"Iya, kak"

"Jangan berdansa dengan pria lain lagi"

"Aku akan memikirkannya.."

Bukankah aku juga perlu menikah? Dan untuk mencapai hal itu, artinya aku harus berkenalan dulu dengan pria, lalu berdansa dengannya.

Seolah-olah dia tidak mendengarkan balasanku, dia langsung mengalihkan topik pembicaraannya.

“Sampai kapan kamu akan memanggilku Kakak?”

 "Lalu aku harus memanggil kakak apa, kalau bukan kakak?"

Seolah-olah dia baru saja mendengar lelucon, dia malah tertawa terbahak-bahak dihadapanku.

Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Matanya bersinar seperti bulan purnama yang cerah, melayang di langit malam yang gelap, seakan aku akan tenggelam di dalamnya.

"Kamu dan aku itu tidak sedarah”

Ya, itu benar.

Aku adalah anak yang diadopsi oleh Duke, tetapi pengadopsian itu diluar ijin dari anaknya Lucian.

Sebenarnya, aku harus seberapa baik lagi padamu?

Ketika aku melihatnya yang menampakkan tatapan sedihnya, dia memintaku dengan suara memohon.

"Panggilah namaku"

"Aku selalu memanggilmu dengan namamu.."

Tapi aku tidak tahu kenapa kamu terus-terusan memintaku untuk memanggil namamu hari ini..

Kebetulan, tidak ada orang disekitar, haruskah aku menyerah dan menurutinya?

Aku memanggilnya dengan suara lemah dan memasang ekspresi ramah.

"Lucian?"

"Sekali lagi"

 "Lucian"

Saat aku memanggilnya dengan nama depan, dia tiba-tiba tersenyum senang.

Jantungku langsung berdegup kencang saat melihat ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Karena mungkin, aku memang ingin dia selalu terlihat bahagia seperti itu.

Sepasang lengannya yang masih melingkari pinggangku, menarikku mendekat. Membuat kepalaku mau tidak mau bersandar di dadanya, aku yang merasa sesak, langsung memukuli punggungnya.

Kenapa kamu sebahagia itu hanya karena aku memanggil namamu? Apa kamu ingin aku lebih sering mengatakannya?

Aku senang dengan reaksinya saat ini dan berpikir untuk mulai memanggil namanya sesering mungkin untuk menyenangkannya.

Tapi sayangnya aku tidak dapat melihat ekspresi seperti apa yang dia buat.

Saat ini aku tidak tahu karena jari-jarinya malah sibuk menyisiri rambutku  dengan kasih sayang, dan tangannya masih memelukku erat-erat.

Apakah tindakanku ini salah?

Postingan populer dari blog ini

Chapter 9

Chapter 6