Chapter 6
Sosok Benjamin yang membicarakan tentang adiknya itu terlihat sangat bahagia. Hingga di titik dimana kamu harus mengiyakan pembicaraannya mengenai adiknya itu.
Dan secara alami, rasa ingin tahu Elvin pada Irene semakin besar.
Bagaimana bisa gadis kecil itu mampu meluluhkan hati Benjamin?
“Karena itu adalah orang yang sangat kamu sayangi, dan sebagai sahabatmu, aku pikir aku perlu memperkenalkan diriku padanya"
“Sahabat…”
“Iya, Sahabat"
Benjamin ingin menolaknya, tetapi ia ragu. Karena, hanya putra mahkota jugalah yang bisa dia anggap sebagai temannya.
“Tapi, Irene tidak akan datang"
"Kenapa?!"
Elvin tampak kecewa berat. Benjamin tersenyum penuh kemenangan.
Benjamin tidak tahu kalau ia akan sangat bahagia mengatakan kalimat itu.
"Karena dia sedang flu"
"Ah"
"Akan jadi masalah besar jika demamnya menulari anda, Yang Mulia"
"Tapi aku tidak masalah"
“Tapi saya yang tidak baik-baik saja"
"Aku tidak tahu kamu begitu peduli padaku... Anehnya, aku senang"
"Bukan. Saya hanya… ”
Irene hanya miliknya seorang, kakaknya hanya tidak ingin adiknya itu malah tertarik pada Elvin.
“Aku harap adikmu segera sembuh. Kalau kamu perlu bantuan tabib, kabari saja aku, kapanpun. Sebagai temanmu, aku pasti bisa mengirimimu seorang dokter terkenal"
Karena permintaan yang tulus, Benjamin mengangguk dengan perasaan senang.
"Terima kasih atas perhatian anda"
Disaat yang bersamaan dalam benak Benjamin, penilaiannya tentang Elvin Manuel menjadi sedikit membaik.
'Aku rasa tidak apa-apa kalau aku juga menganggapnya sahabat'
"Benjamin"
"Iya"
"Jadi kapan aku bisa bertemu Irene?"
“…..”
Benjamin membuang ide menganggap Elvin sebagai 'sahabat'. Setelah sekian lama ia baru memutuskan.
Kesannya untuk Elvin juga menurun. Dan baginya, Elvin Manuel menjadi musuh.
Musuh,
Musuh berbahaya yang berani memperhatikan Irene.
Karena itu, dia harus segera memutus rasa ketertarikan Elvin terhadap adiknya itu, agar pria itu tidak semakin mendekati Irene.
“Tidak untuk seumur hidup"
Namun, kalimat "Seumur hidupnya" itu, malah semakin membuat Elvin penasaran.
....
Benjamin, yang melihat Elvin pergi, segera kembali ke kamar Irene.
Irene juga dalam perjalanan kembali ke kamarnya setelah bertemu ayahnya.
"Kakak.."
Irene berlari ke depan dan melihat sekeliling.
“Bagaimana dengan temanmu?”
Matanya yang bulat terlihat sangat imut, Benjamin membelai lembut rambut perak Irene.
"Dia baru saja pulang, dia sudah kembali beberapa saat yang lalu"
“Dia pergi terlalu cepat.."
Irene bergumam, sedikit menyesal. 'Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi'
Dalam novel aslinya, Putra Mahkota dikatakan memiliki rambut hitam seperti langit malam.
Dan karena teman Benjamin tadi memiliki rambut yang sama dengan Putra Mahkota, kemungkinan kalau dia memang Putra Mahkota.
"Irene, daripada itu"
Benjamin dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan, dan mengulurkan tangan kanannya.
'Apa dia… memintaku untuk memegang tangannya?'
Irene meletakkan kedua tangannya di telapak tangan Benjamin.
"Haha, aku senang kamu memegang tanganku"
Benjamin tersenyum sejenak dan memegang tangan Irene dengan lembut.
“Tapi, aku ingin memintamu hal lain"
“Hal… lain?”
Irene terdiam sejenak.
Memangnya apa yang bisa aku berikan pada Benjamin?
"Apa aku meminjam uang pada kakak dan lupa bayar?"
"Tidak.."
Setelah mendengarnya, Benjamin mengangkat bahu dan tertawa.
“Aku rasa, ulang tahun kakak masih lama..”
"Maksudku pita"
"Eh?"
Mendengar Irene yang bertanya balik, kakaknya hanya tertawa tanpa menjawab. Mungkin dia ingin Irene mengingatnya sendiri.
“Ah… pita?”
Irene bertanya, mengingat pita yang dia taruh di laci pagi ini.
"Ya, pita itu"
"Tapi"
Pita itu disiapkan untuk lomba berburu. Tidak ada gunanya baru menyerahkannya sekarang.
"Kakak kan sudah tidak membutuhkannya lagi" ucap Irene dengan hati-hati.
"Mungkin itu masalahnya.."
Dan Benjamin juga tidak menyangkal fakta tersebut.
"Tapi aku tetap menginginkannya"
"Pita itu?"
"Iya.."
Itu juga satu-satunya hal yang dia harapkan dari kompetisi berburu.
"Sebenarnya.."
Benjamin memutuskan untuk menceritakan kejadian sebelum ia berangkat ke kompetisi berburu.
"Aku datang ke kamarmu sebelum aku pergi"
"Kakak datang ke kamarku?"
"Iya."
Benjamin pergi ke sana karena ia pikir Irene akan senang kalau kakaknya itu mengikat pita buatannya sendiri.
Tapi saat ia temui Irene tengah tertidur karena sakit tenggorokan.
Kakaknya mendengar suara nafas adiknya itu, dan memutuskan untuk berdiri di samping tempat tidurnya.
Demamnya yang parah berlangsung cukup lama.
Benjamin meletakkan tangannya di dahinya dan terasa sangat panas.
Mereka bilang adiknya itu minum obat yang sangat kuat, tapi demamnya belum juga hilang.
Irene tersenyum kecil, mungkin karena dia menyukai sentuhan tangannya Benjamin yang terasa dingin. Senyuman itu terukir di tangannya.
'Aku akan segera kembali'
Ia pun melihat pita yang ditempatkan Irene di mejanya.
Dia bisa saja langsung membawanya, tapi bukan itu yang dia inginkan.
Setelah melihatnya sendiri, ia meninggalkan kamarnya dengan tangan kosong.
"Aku tidak tahu.. kalau saja kakak membangunkanku, aku akan memasangkan pitanya"
“Tapi kamu tertidur pulas”
"Tetap saja…"
Irene menyesal.
Ia menyalahkan dirinya. Karena hadiah pemberiannya tidak pernah sampai langsung ke orangnya.
Mungkin karena itu adalah kejadian yang ia lakukan…
Saat ia masih hidup sebagai pegawai dan juga kekasih seseorang…
Ingatannya yang membeli jam tangan, tapi tidak bisa memberikannya langsung pada orangnya.
Namun itu sudah sangat lama, sehingga ingatannya buram.
"Baiklah.."
Irene menertawakan pikirannya yang tidak berguna.
"Aku yang menaruhnya di laci, jadi aku yang akan mengambilnya"
Dia melepaskan tangan Benjamin, berlari langsung ke meja dan berjongkok di depan laci.
Ketika ia membuka laci, dua pita yang telah ia letakkan di pagi hari telah ditempatkan dengan rapi. Ia hanya mengambil salah satunya.
"Ini dia"
Benjamin mengulurkan pergelangan tangan kirinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin, ia ingin Irene mengikatkannya.
"Sudah benar?"
"Benar"
Irene melilitkan pita di pergelangan tangan kakaknya itu. Pitanya berwarna biru serupa dengan mata mereka berdua.
Irene membuat simpulnya sedikit longgar. Gadis itu khawatir kalau ikatannya akan sakit kalau terlalu rapat.
“Sudah selesai kak. Maafkan aku.."
"Apa?"
"Aku memberikannya terlambat"
Benjamin tertawa ketika dia melihat simpul yang telah diikat Irene.
"Ya, sudah benar.."
Benjamin menarik ujung pita dengan giginya, dan simpul pitanya dibuat sangat erat.
Sehingga benda itu mengikat dengan sempurna di pergelangan tangannya, jadi ikatannya tidak akan pernah lepas.
"Aku suka menunggumu"
Dia mengangkat tangan yang terikat pita itu tinggi-tinggi dan melihat pita biru di bawah sinar matahari.
"Cantik"
Lalu dia tersenyum melihat Irene lagi.
"Terima kasih. Aku akan menjaganya baik-baik"
Sungguh.. kakakku itu sangat lembut dan baik hati. Apa yang harus aku lakukan dengan pria lemah lembut seperti ini?
...
Irene pun memberikan pita satunya lagi pada ayahnya.
Niatnya ia akan meminta maaf karena terlambat memberikannya tetapi ia terlalu senang langsung memberikan hadiahnya lupa untuk meminta maaf.
Dan setelah beberapa hari, Irene mendapat hadiah untuk balasan dari pita itu.
“Sepertinya baru tiba hari ini"
Beth membuat keributan dan membawa sebuah kotak kecil. Ketika Irene membuka kotak itu, nampak syal yang terbuat dari bulu dari dalam kotak tersebut.
Sepertinya syal ini terbuat dari bulu binatang yang ditangkap saat kompetisi berburu hari itu. Mungkin itu bulu kelinci.
Maafkan aku kelinci, aku akan menggunakannya dengan sangat baik.
Bulunya sangat lembut sehingga rasanya tidak akan cukup kalau hanya dengan menyentuhnya.
Mungkin syal ini dapat menghalau semua hawa dingin.
Irene langsung berlari keluar memakai syal itu. Dia juga menunjukkan syalnya kepada ayahnya dengan bilang kalau ia sangat menyukainya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Lalu Irene berlari kearah Benjamin. Tentu saja, gadis itu menunjukkannya padanya.
"Kalau begitu.."
Benjamin menyentuh syal Irene dan memberikan tawaran lain padanya.
“Haruskah kita pergi membeli beberapa pakaian yang cocok? Gaun atau apapun”
“Tapi aku kan masih punya banyak pakaian”
"Masih.."
“Oke, ayo kak. Akhir-akhir ini aku senang berolahraga, jadi aku yakin kalau aku bisa tumbuh tinggi"
“Saat kamu tumbuh lebih tinggi, kamu akan membutuhkan pakaian baru”
"Benar sekali."
“Kalau begitu, haruskah kita membeli sepatu dan topi juga?”
“Kalau begitu, kau pasti akan membelikanku kalung juga”
"Itu ide yang bagus."
"Kakak!"
Irene berteriak. Bagaimanapun memanjakan anak kecil itu adalah kebiasaan yang buruk.
Tentunya, Irene tidak memerlukan pembelajaran itu.
"Kalau begitu topinya saja"
"Baiklah"
Irene akhirnya mengangguk dan membukakan pintunya.
“Tapi, bukankah kakak bilang biasanya hari ini adalah hari kakak pergi ke perpustakaan?”
"Iya, benar.."