Langsung ke konten utama

Chapter 5

 Chapter 5



Haruskah aku memberinya salam?

Atau… haruskah aku menutup pintu, lalu keluar?

Bagaimanapun situasi ini aneh..

Ketika Irene dalam masalah dan gelisah, ia mendengar suara di lorong.

"Nona Irene!"

"Astaga, itu Beth!"

Aku sepertinya ketahuan karena keluar dari kamarku.

Irene bergegas masuk kembali ke kamar Benjamin dan menutup pintu dengan keras.

“Nona Irene? Anda dimana?”

Tepat setelah suara Beth perlahan-lahan terdengar menjauh dari kamar Benjamin, Irene menghela napas lega.

Kalau aku bertemu Beth sekarang, aku pasti akan langsung diseretnya ke kamar.

"Irene... Webber?"

Tiba-tiba, suara lirih datang dari belakang punggungnya, Irene segera berbalik dan tersenyum canggung. Senyuman untuk menutupi rasa malu, tapi tidak berhasil dengan baik.

"Ah, anu... "

Ketika dia pikir, ia harus membuat alasan, dan mencoba membuka mulutnya, namun setelah itu,

Pintunya terbuka lagi.

'Beth?'

Irene segera menoleh ke belakang dengan takut-takut, namun dibelakangnya malah berdiri Benjamin, dengan nafas terengah-engah.

Sepertinya dia sehabis berlari dari jarak jauh, rambut panjangnya pun berantakan.

"Irene!"

Benjamin bergegas masuk dan menghampiri Irene.

Teman yang berasa seperti musuh, berdiri di dekat jendela, 

Dan Irene, hartanya, menatapnya dengan mata lebar. Terlebih lagi..

…Ia masih mengenakan piyamanya.

Benjamin, tanpa melihat temannya itu, ia buru-buru menutupi bahu Irene dengan jasnya. Setelah menutupinya dengan rapat, sampai piyama imut Irene pun tidak terlihat, ia langsung memposisikan Irene dibelakang punggungnya.

Seperti melindunginya dari monster menakutkan.

"Kakak…"

Irene menoleh keatas dan menatapnya. Benjamin, yang ia rindukan setelah sekian lama, terlihat lelah wajahnya. Mungkin karena kakaknya itu kembali secara mendadak.

"Mmm, aku minta maaf"

Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi Irene memutuskan untuk minta maaf terlebih dahulu. Karena dia memasuki kamarnya tanpa tahu bahwa ada tamu di dalamnya.

Irene tidak ingin membuat alasan bahwa sebenarnya ia datang ingin mengejutkannya.

"Aku tetap tidak berpikir  kalau itu tidak akan membenarkan tindakanku" 

Benjamin tidak menyalahkan Irene. Sebaliknya, dia berbicara dengan ramah kepada Irene.

"Maaf ya, kakak tidak bisa langsung menemuimu."

Setelah saling meminta maaf, Irene mengumpulkan keberaniannya dan bertanya sambil berbisik.

Dia berbisik ke telinga Benjamin sehingga temannya yang berdiri jauh tidak bisa mendengarnya.

"Siapa dia, kak?"

"Ah"

Benjamin menatap Irene sejenak, lalu mendongak dan menoleh ke tempat temannya itu berdiri.

Ada aura aneh di wajah Benjamin, yang selalu terasa lembut.

"Apa kalian tidak akur?"

"Ah, Selain itu, Irene, bagaimana dengan demammu?"

Kemudian dia kembali ke senyum ramahnya yang biasa dan menatap Irene.

'Aneh, kenapa dia, um, mencoba untuk mengubah topik pembicaraan? Apa hanya perasaanku?'

'Lagipula disini, yang salah adalah aku, karena masuk sembarangan'

Terlebih, orang baik dan lemah lembut seperti Benjamin tidak mungkin membuat wajah menakutkan kehadapan tamunya.

Ujung-ujungnya, aku tidak pernah memberikan alasan pada tamunya Benjamin.

Benjamin lembut meraih tangan Irene dan langsung membawanya kembali ke kamarnya.

Ketika aku kembali ke kamar, Beth, pelayanku, sangat marah saat menyapa Irene.

“Nona! Bukankah anda kan sudah janji untuk diam disini?! ”

“…Maaf.”

"Mendekatlah. Saya membawakan gaun biru muda untuk anda. Bisa gawat kita, Tuan Muda punya tamu di kamarnya dan saya tidak dapat menemukan Nona Irene di mana pun"

"Ah."

"Saya khawatir,  apa yang akan terjadi, kalau Anda bertemu tamu dengan baju piyama seperti ini.."

Maaf.. Tapi aku... sudah melakukannya...

"Beth"

Irene menurunkan kancing piyamanya sendiri, dan Beth menunggu dengan gaun di tangannya.

"Iya?"

“Apakah kamu tahu siapa tamunya Kak Benjamin?”

"Saya diberitahu bahwa beliau adalah penerus utama di keluarganya, tapi saya tidak diberitahu secara detailnya"

"Begitukah?"

“Jadi kami hanya menduga-duganya di antara pelayan saja, Nona"

Beth memakaikan gaun ke tubuh Irene dan memasang kancing di punggungnya. Gaunnya terasa tidak nyaman di tubuh gadis kecil itu, karena selain gaunnya itu berenda, ukurannua juga terasa sangat longgar.

"Saya menduga.. mereka menyembunyikan identitasnya karena beliau adalah orang yang sangat, sangat berharga"

“Orang yang sangat, sangat berharga?”

"Saat saya ke dapur, orang-orang disana bergosip kalau tamu itu terlihat seperti lelaki dari sebuah tempat besar atau bangsawan asing"

Memangnya ada ya anak seperti itu disini? Aku rasa aku pernah mendengarnya.. atau juga tidak.

Tapi sepertinya memang ada ciri-ciri orang yang cocok untuk masuk kriteria anak yang sangat-sangat berharga itu.

“…Jangan bilang, Putra Mahkota?”

Irene, yang bergumam, menggelengkan kepalanya pelan.

Sepertinya dugaanku ini berlebihan..

“Hm, tidak mungkin”

“Nona sangat tertarik dengan Yang Mulia Putra Mahkota, ya”

Irene berjalan mengelilingi Beth.

Sepertinya aku harus menyelidikinya diam-diam.

"Aku berniat baik kok, pada Putra Mahkota!”

Aku tidak berpikir untuk mencelakainya atau apapun.

...

Setelah Benjamin mengembalikan Irene ke kamarnya, ia berjalan kembali ke kamarnya. Disana temannya sedang duduk dengan nyaman di sofa dan menyesap tehnya.

"Hmm.. teh hitam yang enak. Sempurna"

Anak laki-laki itu tersenyum, lalu meletakkan cangkir tehnya dengan anggun.

"Saya turut senang"

"Apa aku sudah pernah bilang kalau aku lebih suka memasukkan susu ke dalam teh?"

"Iya. Maka dari itulah, saya jawab saya lebih suka teh hitam"

"Rasanya jadi aneh"

"Tolong di mengerti"

Benjamin mengambil posisi dan duduk di seberang anak laki-laki itu sambil menatapnya.

'Bahkan ketika anak ini pakai setelan sederhana, aura aslinya tidak memudar sama sekali'

"Yang Mulia"

“Hmm?”

Elvin Manuel Terence.

Satu-satunya Pangeran di Kekaisaran Terence, masa depan negara ini, anak kaisar satu-satunya.

Dan tentu saja, Benjamin harus mengabdikan kesetiaan dan loyalitasnya sebagai penerus bangsawan.

"Jika Anda sudah menghabiskan teh, saya ingin Anda segera kembali"

“….”

'Kesetiaan dan Loyalitas… Ya.. Aku akan memberikannya dengan caraku sendiri. Mungkin' batin Benjamin masih terus menatap orang di depannya itu.

"Aku kan sudah memberitahumu, kamu bisa bicara santai saat kita hanya berdua"

"Saya bicara dengan santai, Yang Mulia"

“Kedengarannya tidak seperti itu.."

"Saya rasa cara bicara ini lebih tepat untuk kita berdua.."

Tepat setelah Benjamin kembali menjawabnya, Putra Mahkota itu menutup mulutnya. Mungkin ia sedikit terluka.

Setelah terdiam cukup lama, Benjamin mengisi ulang cangkir teh Putra Mahkota yang kosong.

Dengan maksud, setelah ia meminum ini, ia akan pergi.

“Apakah kamu menikmati kompetisi berburunya?”

“Boleh saya jujur?”

"Iya.. kan aku yang memintanya.."

"Biasa saja"

“….”

"Kompetisinya tidak seperti yang saya harapkan"

"Memang apa yang kamu harapkan?"

Benjamin hanya mengangguk, namun tidak mengatakan apapun.

“Kalau kamu memberitahuku, aku akan coba menyiapkannya"

“Itu bukan sesuatu yang bisa anda persiapkan. Anda sendiri bagaimana, Yang Mulia? Anda pergi ke regu musuh, menyamar menjadi anak baron yang miskin"

Elvin tersenyum, menatap pakaiannya yang sederhana.

Inilah yang dipakai kakeknya ketika masih kecil, setelan kuno dengan aksesoris renda berlebihan.

Mungkin semua bangsawan yang melihatnya akan mengira kalau ia adalah 'Putra bangsawan miskin, karena tidak punya uang untuk membeli baju baru'

Ia pun membawa topi besar bersamanya, sehingga tidak akan ada yang akan mengenali wajahnya.

"Pengalaman yang bagus"

"Aku bisa bicara mata ke mata, dan orang-orang menatapku dengan cara bicara mereka yang kasar"

Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sang Putra Mahkota, Elvin.

"Tapi ngomong-ngoming, Benjamin"

"Hmm"

“Saat aku menunggumu sendirian disini tadi”

Elvin melirik ekspresi Benjamin.

Benar saja, dahi pria dihadapannya ini berkerut.

Ketika Elvin mengungkit topik tentang adiknya Benjamin, dia akan selalu seperti ini.

"Sepertinya aku ketemu adikmu"

"Bukan"

Benjamin segera memotong dan menyangkalnya.

"Anda tidak bertemu dengannya"

"Tidak kok, aku bertemu dengannya"

“Itu hanya perasaan anda saja"

“Terus, gadis yang langsung kamu peluk siapa? Apa dia peri di kediaman ini? "

“Ya, dia adalah peri dirumah ini"

“Ah, benarkah?”

"Apa maksudnya?"

"Yah, aku bertanya-tanya kenapa peri bisa bertingkah manis begitu"

“…Dia bertingkah manis?”

"Iya. Kami bahkan saling tatap-tatapan"

Elvin berhenti bicara dan menoleh ke sudut ruang yang kosong. Seolah-olah dia sedang mengingat kejadiannya.

"Dia bahkan tersenyum lembut"

"Jika bukan karena perbedaan status, aku pasti sudah memukulmu"

“Hmm? Aku tidak mendengarmu tadi"

“Ah, saya hanya bergumam. Anda tidak perlu khawatir"

“Ngomong-ngomong, kapan ya dia akan datang?”

"Siapa yang Anda bicarakan?"

“Irene Webber. Kan kita belum bertemu, aku akan pulang setelah menyapanya"

Elvin memang selalu penasaran dengan Irene, namun ia tidak pernah mendengar gosip apapun tentangnya. Dan itu karena Benjamin.

Benjamin sebenarnya cukup terkenal di antara para anak bangsawan di Ibukota. 

Dengan penampilan dan latar belakang keluarganya, ia tidak pernah terlihat bersama dengan gadis lain.

Karena hidupnya hanya menginginkan pengetahuan, dan tempat favoritnya pun menjadi perpustakaan.

Karena Benjamin bereaksi cukup tenang bahkan terhadap pujian yang tinggi dari orang-orang, Elvin mengira dia tidak memiliki ketertarikan duniawi.

Sampai dia mendengar Benjamin yang berbicara mengenai adik perempuannya itu..


Postingan populer dari blog ini

Chapter 9

Chapter 6