Langsung ke konten utama

Chapter 1. Roh Sakura

Seiring dengan bergantian musim, suara-suara pun mulai hilir berganti. Rasanya seperti setiap hari, aku akan mendengarkan tangisan bayi yang baru lahir di tanah sakura ini. Suara tawaan riang nan gembira datang menghampiri, seolah mengajakku untuk menikmati suasana. 

Namun aku.. aku... kakiku tidak bisa meninggalkan tanah ini, yang lagi lembab dan juga merah muda, tertutup kelopak bunga sakura. Aku menunggu dibawah pohon sakura, menunggu sesuatu, yang sudah lama aku tidak jumpa, sesuatu yang sudah aku lupa.. 

Dibawah pohon sakura ini, aku.. terduduk, terdiam, tak bisa berbuat apapun pada tanah sakura ini. Meskipun tangisan bayi, akan terasa seperti kehidupan baru. Meskipun tawaan anak kecil, akan terdengar seperti ajakan baru. Namun aku, kehadiranku tercipta hanya untuk menunggu. Menunggu sesuatu yang aku luput akan apa itu..
...

“Kapan ya aku bisa bersajak sepertimu, Kak Liu..” 

Luo Bo, anak kecil dengan cepol 2 di rambutnya terdengar mengeluh pada orang dewasa yang memangku kepalanya.

Gadis yang dipanggil ‘Kak Liu’ itu hanya menggeleng kecil sembari tersenyum, ia menjelaskan, “Itu bukan sajak buatanku, itu sajak si Roh Sakura”

Luo Bo yang mendengar pernyataan tidak masuk akal itu, mengerucutkan bibirnya. “Hantu bisa bersajak?”

“Dukun disekitar sini yang menyampaikan sajaknya” ucap Liu Er dengan tenang.

“Dukun? Siapa? Kakek Ji?”

“Memang dukun di desa ini siapa lagi?”

“Aku memutuskan!” Luo Bo tiba-tiba bangkit dari sandarannya pada paha Liu Er dan berdiri tegap. Ia berkacak pinggang.

“Aku akan jadi dukun, dan bicara dengan roh sakura!” lantangnya.

Liu Er yang mendengarnya hanya terkekeh, ia menutup buku bacanya keatas meja yang berada tepat disampingnya.

Kruyuuuk~

Wajah tembam Luo Bo tiba-tiba memerah, sepasang tangan mungilnya langsung memegangi perutnya.

“Astaga, perut calon dukun tidak seharusnya berbunyi sekeras itu..” ucap Liu Er dengan nada jahil pada anak dihadapannya ini.

Luo Bo tidak berkata-kata, ia hanya menampakkan wajah cemberut dengan wajah memerah di kedua pipinya.

“Biasanya dukun hanya makan ubi dan air putih saja loh..”

“Waaah! Aku masih mau jadi adik Kak Liu, jadi calon dukunnya nanti saja!” teriak Luo Bo terdengar ngambek, ia lalu berlari untuk memeluk perut kakaknya itu.

Liu Er tertawa lagi, ia memainkan kedua cepol rambut adiknya itu.
“Kakak hanya bercanda”

...

Liu Er dan Luo Bo, dari segi namanya saja sudah terlihat kalau mereka bukanlah saudara kandung. Mereka tinggal satu sama lain, untuk mengisi kekosongan masing-masing. 

Liu Er yang kehilangan adik kandungnya, karena ia tidak mampu memberinya makanan saat itu. 

Dan Luo Bo, bocah laki-laki yang kehilangan kakak perempuannya dan keluarganya karena dituduh sebagai penghianat kerajaan.

Liu Er dipertemukan oleh Luo Bo, masing-masing ditanah sakura ini, dibawah pohon legendaris itu. Liu Er yang mengetahui latar belakang Luo Bo, langsung mengubah tampilan bocah laki-laki itu menjadi perempuan, dengan kuncir cepol duanya.

Liu Er menyembunyikan tanda lahir di kepala Luo Bo, dan bocah itu pun menjadi adiknya.

Selama menjadi adiknya, Luo Bo berganti namanya untuk sementara menjadi Liu Chu, namun di antara mereka, Liu Er tetap akan memanggil nama asli dari bocah laki-laki itu, untuk menghormati kedua orang tua Luo Bo.

...

Malam menjelang, disebuah pondok beratap jerami, jendela terbuka tak nampak tirai yang menutupi. Mereka berdua masih belum selesai membuat tirai tersebut, karena saat ini masih musim semi. 

Tempat kediaman mereka yang terpencil dengan desa yang aman, dan sepi membuat penjagaan mereka terhadap keamanan benar-benar longgar.

Dalam pondok atap jerami itu, hanya ada satu kasur jerami, dan dua bantal jerami. Maklum saja, mereka baru pindah kesana selama 3 hari, baik pondok dan juga isinya merupakan pemberian warga desa yang kasihan pada mereka berdua.

“Hmm dingin..” gumam Luo Bo mengigau, tangan kecilnya mencari-cari sesuatu, sebelum akhirnya bertemu dengan tangan kakaknya itu.

Liu Er tertidur sangat tenang, dan larut dalam mimpi. Dalam mimpinya, sebuah tangan menggenggam tangannya erat, mengajaknya ke sebuah ladang jemala yang harum wanginya. 

Namun ladang itu juga merupakan tempat perpisahannya dengan adik kandungnya yang malang, akibat dari ketidak mampuannya di masa lalu untuk merawat adiknya itu.

Tangan yang menggenggamnya erat ini.. Ia lepaskan, dalam ladang jemala itu, Liu Er terdiam.

“Pertemuanku dengan adikku, bagaikan penantian Roh Sakura terhadap sesuatu..”

“Tidak akan pernah.. Terwujud”

Namun, tangan itu menggenggamnya lagi, dengan hangat, namun semakin lama semakin erat.

Liu Er pun terbangun, mendapati tangannya digenggam erat oleh Luo Bo yang tertidur. Tapi.. Adiknya itu tidak sepertinya dirinya yang mendapatkan mimpi indah, Luo Bo mendapatkan mimpi buruk.

“Jangan lepaskan tanganku, Kak Ming..” ucap Luo Bo dalam tidurnya.

Tidak ingin mimpi Luo Bo berlarut, Liu Er membangunkannya, dan seketika membuat bocah laki-laki itu tersentak. 

Dari wajah sampai tubuhnya mengeluarkan keringat, matanya yang tadinya nampak bulat jernih, terlihat memerah dan kering.

Liu Er bangun untuk mengambilkan air minum untuk adiknya itu dengan segera, Luo Bo menegaknya dengan cepat dan terengah. Mulut kecilnya mulai terisak, air matanya menetes dan terjatuh dengan deras.

“Kak Ming!!” jeritan tangis Luo Bo, malam itu.

Liu Er otomatis langsung memeluk Luo Bo, untuk menenangkannya.

“Ibu..!! Ayah..!!”

Luo Bo masihlah anak kecil, ia baru berusia 8 tahun, namun sudah memiliki pengalaman yang tidak seharusnya ia rasakan.

[“Aku akan menjadi tempatmu pulang”] 

Saat itu, dibawah pohon sakura legendaris, Liu Er yang bersimpati pada Luo Bo mengatakannya seperti sumpah. 

Ia yang saat itu tidak tahu sejarah dari pohon sakura legendaris itu mengatakan janjinya dengan Roh Sakura sebagai saksinya.

[Ketika mengucapkan janji di bawah Pohon Sakura legendaris maka pohon itu akan mengikat jiwamu, baik janji itu ditepati atau tidak. Satu-satunya yang akan menjadi rumah, janji, dan jiwa, akan jadi miliknya, karena Pohon Sakura Legendaris dapat memastikan bahwa janji itu pasti terwujud]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 9

Chapter 6