Langsung ke konten utama

Chapter 1

 Chapter 1.


Keluarga itu seperti Perusahaan.

Itu adalah perumpamaan yang buruk sampai membuatku bergidik kalau memikirkannya.

Kalau kamu itu tipe orang yang menikmati lingkungan perkantoran, kamu pasti akan terbawa suasana yang 'Seperti keluarga' yang tiba-tiba saja muncul dari mulut orang-orang disana.

Contohnya seperti Grupchat kantor di Kakaotalk.

Pastinya disana, ada pembicaraan yang selalu berlangsung dari pagi sampai malam (meskipun mereka tidak membicarakan tentang urusan kantor, tetap saja menyebalkan).

Tepat setelah lewat jam 6 malam, pasti ada voice note yang mengatakan, "Tolong revisi kembali data ini sampai besok, lalu serahkan"

Atau pula bersuara seperti, "Tidak ada tempat yang lebih baik lagi selain perusahaan ini!". Dan langsung terbawa arus segunung pekerjaan saat weekend menjelang.

Kamu tidak bisa pulang tepat waktu.

Mereka mengalihkan pandangan mereka darimu, meskipun kamu meminta surat gaji bulanan ataupun surat pengunduran.

Mengambil waktu istirahat saat tanggal merah, menjadi tidak mungkin untuk dilakukan. Tentu saja, memang sudah kewajiban perusahaan memberikan hari libur pada karyawannya, tapi kamu tidak bisa mengambil saat liburan itu ketika tanggal merah.

Perusahaan gelap itu ada dimana-mana, dan banyak orang menderita karena ketidakrasionalan perusahaan mereka.

'Aku marah kalau memikirkannya lagi'

Kuulangi, perusahaan-perusahaan gelap ada dimanapun, dan dimana-mana. Bahkan hanya dalam cerita fantasi romansa yang akan jadi perwujudan dari mimpi ,cinta dan harapan.

...

Sekarang kita fokus ke percakapan antara dua tokoh utama dari novel romansa ini.

["Aku tidak menduga Yang Mulia akan berbuat sampai sejauh ini"]

["Hal yang normal untukku berada ditempat kamu berada"]

["Tapi aku dengar, Yang Mulia sedang banyak kerjaan"]

["Jangan khawatir, Sekertarisku yang luar biasa itu yang mengurusnya, dia dan aku itu seperti adik-kakak"]

["Yang Mulia, Demiku, kamu..!"]


Ceritanya terlalu menyengesalkan untuk dibaca lebih lanjut.

Bukankah itu contoh dari kalimat, "Seperti Keluarga" yang orang-orang perusahaan bilang?

Ketika sang pangeran bertemu dengan si tokoh utama wanitanya, sekertarisnya yang malang ditinggalkan dengan banyak tumpukan pekerjaan.


Dan inilah dialog utama dari sang sekertaris tersebut.

["Pangeran, masih ada banyak dokumen yang harus diselesaikan hari ini!"]

["Pangeran, tolong selesaikan tugas hari ini, semua orang sedang menunggu anda"]


Dan inilah hal yang menggelikannya.

Kapan pun Tuannya itu bekerja keras, si sekertarisnya itu akan selalu mengutarakan kegembiraannya dan memberikan pujian berlebih terhadap pemeran utama wanita.

["Kalau anda niat, anda pasti bisa langsung menyelesaikannya"]

Sekertarisnya itu selalu membusungkan dadanya dengan bangga, ketika Tuannya bekerja.


Okay, inilah Fantasy!

Maksudku, ini aku, yang akan langsung mengatakan, "Mana mungkin aku mau bekerja di bawah naungan baj*ngan itu?"


Terlebih lagi..

Seperti yang kita semua tahu, kalau sekertaris yang bertempramen baik dan lembut itu tidak pernah ada di dunia ini.

Dan orang itu adalah..


"Irene?"

...

Tiba-tiba saja namanya dipanggil, mata gadis itu terbuka. Menampilkan ekspresi keterkejutan terhadap orang yang ada dihadapannya ini.

Laki-laki dengan senyum lembut di wajahnya, berhadapan dengannya.

Dia adalah kakak dari gadis itu, yang dimasa depan akan menjadi sekertaris pribadi pangeran dan menderita karena kelebihan bekerja.

"Kamu tidak kelihatan baik, apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?"

"Ah, tidak. Tidak apa-apa, kak!"


Irene dengan terburu mengunyah roti yang masuk ke mulutnya. 

Entah karena laki-laki itu melihat tingkah gugupnya sebagai suatu hal yang imut, lelaki itu tersenyum sambil membenarkan posisi kacamatanya.

"Jangan suka bengong"

Dan kegiatan makan pun dilanjutkan.


'Luar biasa sekali, bisa terlahir kembali di dunia buku'


 Dan yang lebih mengejutkannya adalah dia terlahir sebagai adik dari sekertaris malang yang bekerja dibawah naungan boss iblis. Karena ia juga pernah menderita akibat bekerja sebelum ia dilahirkan kembali.

'Aku menghabiskan waktu disini dengan damai'


Irene Weber bukanlah tokoh utama, bukan juga pemain sampingan ataupun extra, tapi hanya orang yang tidak pernah muncul di dalam novelnya itu sendiri.

Tidak ada yang namanya naik-turun dalam hidupnya, yang ada hanya kenyamanan. Tapi dia punya satu kekhawatiran.

'Kakakku tersayang ini terlalu.. lembut'


Aku khawatir pada kakakku yang tampan dan  kelewat baik ini.

"Ngomong-ngomong, kak"

"Apa?"

"Apa hari ini kamu akan bertemu dengan Putra Mahkota?"

Irene bertanya dengan wajah gugupnya.

...

Putra Mahkota dan Benjamin Webber

Dua anak laki-laki dengan perbedaan usia yang dekat, acap kali bertemu lebih dari 2 kali dalam seminggu, hanya untuk bermain permainan ringan.

Tentu saja, Irene sangat membencinya ketika kakaknya itu terus berhubungan dekat dengan sang putra mahkota. 


Kamu terjebak dalam hubungan teman masa kecil ini dan langsung diajukan sebagai sekertaris pribadinya.

Dan lagi, tidak mungkin untuk menjauhkan mereka dari pertemuan ini. Dia adalah anak laki-laki dari seorang Count, tidak mungkin untuk menolak ajakan Putra Mahkota kerajaan ini.

Tapi kalau dipikirkan, Irene tiba-tiba memiliki ide bagus untuk masalah ini.


"Ngomong-ngomong, bisa kamu ikut sertakan aku juga hari ini?"

Aku hanya perlu mengikuti kemana kakak pergi.

Untuk menjauhkan pertemanan mereka jadi lebih dalam, dan untuk melindungi kakakku dari si Putra Mahkota ini.

Aku mau menghentikan kakakku yang baik dan manis ini, dari bekerja dibawah naungan atasan yang buruk.


"Irene"

Kakaknya membalas, langsung meletakan kembali alat makan yang ia pegang.

"Aku tidak bisa"


Kenapa?!

Dia biasanya menuruti keinginan adiknya ini, tapi ketika Putra Mahkota disebutkan dia jadi tegas, dan menolaknya.

'Segitunya kamu ingin bertemu dengannya seorang diri?'


Irene mengerutkan kening, tetapi Benjamin hanya memberikan jawaban tegas: "Tidak boleh".


Ada apasih ini?

Kenapa dia selalu menghalangiku untuk bertemu pangeran?

...

Dalam sekejap, seorang pekerja wanita biasa yang bekerja lembur di sebuah perusahaan yang kejam menjadi 'Irene Webber'

Sampai saat itu, Dia pergi bekerja bahkan pada hari Sabtu selama 2x dalam sebulan dan kerap ditahan di kantor hingga malam hari.


Aku bahkan tidak bisa makan malam dengan benar saat tiba shift malam. Itu karena aku banyak mengkonsumsi kopi murahan yang melimpah di ruang sekretaris, dan sering merasa tidak enak badan karenanya.

Ketika aku sibuk memegangi perutku karena asam lambung, aku menemukan ada banyaknya notifikasi yang belum terkonfirmasi.

Dan semua itu dari pacarku.

[Apa kamu masih kerja?]

[Kamu tidak angkat telepon, apa masih sibuk?]

[Kamu tahu ini perayaan tahun keempat kita, kan?]

[Aku tunggu, hubungi aku kalau sudah selesai. Jaga pola makan ya…]


Perayaan keempat… Aku tahu itu.

Dia tertawa getir, mengingat hadiah yang dia masukkan ke dalam tasnya.


Aku merasa menyesal, sudah membuatmu menunggu, aku membawakanmu arloji mahal dengan pola hati yang besar.

Namun, jam tangan inipun akan 'diserahkan kepadanya' setelah membuatnya menunggu lebih lama. Bagaimanapun, aku tidak bisa menunda balasan yang sudah terlambat, jadi dengan cepat aku membalas pesannya.

[Maaf, balasannya terlambat, kan? Aku akan pulang setelah selesai. Maafkan aku]

Setelah menekan tombol kirim, aku menghela nafas singkat.


'Haruskah saya keluar dari pekerjaan ini?'

Pikiran yang telah dipikirkan ribuan kali, terlintas di benakku lagi. Tetapi tidak ada yang bisa kulakukan pada akhirnya, aku takut untuk melakukannya.

Bagaimana kalau aku keluar sebelum menemukan tempat tinggal, tapi aku sudah jadi pengangguran?

Biaya sewa rumah dan biaya hidup sehari-hari sedang kukumpulkan sekarang, dan... Ah, itu bahkan tidak akan bertahan beberapa bulan.


Karena tekanan di perusahaan begitu banyak, meneriakan banyak kata umpatan saja bahkan tidaklah cukup, dan akibatnya, aku tidak dapat menghemat banyak uang. Karena awalnya aku bahkan tidak dibayar cukup.

'Aku patah hati..'


Untuk sesaat, aku melepaskan tanganku dari keyboard dan meraih perutku, beberapa saat kemudian ponselnya bergetar lagi.

'Aku benar-benar lelah'

Aku bisa melihat enam kata dengan emosi yang dalam. Pengirimnya adalah pacarku.

Biasanya, aku langsung akan mengirimkan balasan pesannya, dengan segera, tetapi aku sudah tidak punya tenaga untuk mengetik, jadi aku hanya menatap kosong ke layar ponsel itu.


[Aku mengerti, kamu sedang masa sulit.]

Meskipun dia tidak dijawab, pesan itu tetap berlanjut.

[Aku benar-benar ingin berhenti sekarang]

Ya, ritme dering notifikasi itu semakin pendek dan pendek.

Mungkin dia sedang melampiaskan perasaannya.

[Sungguh, aku juga mengalami kesulitan.]

[Kalau sudah seperti ini, bahkan jika aku menikahimu, tidak akan ada gunanya.]

[Maafkan aku.]


Dia langsung menghapus kalimat soal pernikahan tersebut, mungkin karena mengira dia melakukan kesalahan.

[! Pesan ini telah dihapus.]


Namun bukan berarti, kata-kata itu akan hilang dari benaknya.

Karena kata-kata itu  tidak sepenuhnya salah.


Dan ponselnya berdering lagi.

[Ayo putus.]

Wanita itu menatap kata-kata di layar handphonenya.


Aku tidak tahu, kenapa aku memikirkan sesuatu yang begitu bodoh pada saat itu. 

'Mungkin ini akan dihapus juga.'


Namun, bahkan setelah jangka waktu tertentu, pesan tersebut tidak dihapus.

Bahkan layar LEDnya berkedip seolah-olah aku menunggunya balasan pesan lanjutan darinya.

'Aku harus balas..kan?'


Kupikir begitu, tetapi telepon perusahaan tiba-tiba berdering. Wanita itu memandang ponsel dan layar ponselnya secara bergantian, tetapi akhirnya mengulurkan tangannya untuk menerima panggilan perusahaan.


Aku membenci diriku sendiri karena memilih untuk bekerja bahkan pada saat seperti ini. Aku merasa seperti budak dengan gelar pendidikan.

Aku mengangkat gagang telepon setelah sempat kebingungan.


Saat dering telepon perusahaan yang mengganggu itu tiba-tiba berhenti.

Matanya berputar.

Tanpa mengetahui apa yang telah terjadi, kesadaran menenggelamkannya masuk ke dalam kegelapan.


'Aku harus balas.. pesannya'

Aku memikirkannya beberapa saat kemudian, sampai akhirnya kesadaranku hilang seutuhnya.


...

Setelah hening sejenak, muncul cahaya terang di dihadapanku.

Ketika instingku merasa diganggu, entah kenapa aku tiba-tiba menangis.

Seperti bayi, dengan suara nyaring. Aku benar-benar merasa sedih dan tidak bahagia.

Sebenarnya-

Sebenarnya…

Aku tidak ingin terpaku pada pekerjaan sampai seperti itu.

Aku ingin melakukan perjalanan ke luar negeri.

Aku merindukannya, kekasihku.

Aku iri pada teman-temanku yang bekerja di perusahaan yang baik.

Aku juga ingin memiliki kartu karyawan yang benar, untuk dipamerkan kepada orang lain.


Tangisan itu tidak bisa berhenti dengan mudah, ketika aku mengutarakan semua kebencian dan kesedihanku secara bersamaan. Aku sampai kehabisan napas.


"Tidak apa-apa, sayang"


Saat itulah, suara yang sangat lembut terdengar.


Postingan populer dari blog ini

Chapter 9

Chapter 6