Langsung ke konten utama

Chapter 2

 Chapter 2.


Irene dikejutkan oleh suara lembut yang menutupi penglihatannya yang samar. Namun, tangisan tetap meledak setelah sekian lama.

"Bayinya terus menangis, Ibu."

Suara anak kecil pun terdengar. 


“Yah, mungkin bayi kita mengalami sesuatu yang menjengkelkan sebelum dia masuk ke dalam rahim ibunya.”

Wanita yang mengatakan itu memeluknya erat-erat. Dia juga menepuknya dengan tangan lembutnya.

"Ssst ... Tidak apa-apa, semuanya sudah berakhir sekarang, Irene."


Aneh.


Dia bukan 'bayi' sampai beberapa saat yang lalu, bukan pula 'Irene'.

Namun, secara naluriah, aku tahu, mereka semua merujuk padaku.

“Mulai sekarang, kami akan melindungimu.”

Dan, wanita yang mengatakan ini adalah ibuku.


"Kami akan melindungimu, Irene"

Anak laki-laki itu mengikuti kata-kata ibunya dan bersumpah bersama.

Apa-apaan ini?

Dia tertidur lelap, bahkan tanpa memahami kenyataan.

...

Irene perlahan mulai belajar tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Bahasa, budaya baru, dan lingkungannya.

Jadi, pada saat ia dapat berjalan dan berbicara, dengan sedikit keberanian dia mengatakan ini kepada keluarganya.

"Bumi!"

Tanda tanya imajiner berada di atas kepala anggota keluarganya. Meski begitu, Irene tidak menyerah dan terus berteriak, mengarahkan jarinya ke peta kekaisaran yang dipasang orang tuanya di dinding.

"Bumi!"

“Ah, maksudmu peta?”

“Tidak, menurutku kamu bilang itu sebuah institusi, kan?”

Orang tuanya bersikeras bahwa mereka benar. Namun kenyataannya mereka berdua salah dengar.


'... Seharusnya aku menuliskannya.'

Dengan memperhatikan pengucapannya… Tidak, aku rasa itu tidak akan berhasil.


Karena, aku rasa tidak ada satu kata pun di sini yang mengatakan Bumi.

(Irene mengatakan Bumi dengan bahasa asalnya, jadi anggota keluarganya tidak ada yang paham)

Lalu dimana kita?


Saat sedang menundukkan kepala karena putus asa, Kakak Irene, Benjamin Webber, yang baru berusia lima tahun, mendekatinya.

Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya yang gemuk dan putih bersih.


'Bagaimana kalau dengan tanganmu?'


Saat Irene berpikir begitu dan menatapnya, bocah laki-laki itu tersenyum manis, melengkungkan mata birunya yang menyerupai air.

Dengan senyum manisnya, Irene menggenggam tangannya seolah-olah dia telah mendapatkan ide.


Pada saat itu, meskipun faktanya, aku tetap tidak tahu di mana ini, aku hanya bisa menyadari satu hal.

'Ah, meskipun aku dilahirkan kembali, aku tetap bodoh.'


Benjamin membawa Irene ke perpustakaan. Perpustakaan Count Webber berisi beberapa buku, dan Benjamin mengeluarkan atlas terbesar dan membuka bab pertamanya. Peta itu jauh lebih detail dan berlingkup daripada peta di dinding.


Ya ampun, sepertinya kakak laki-laki yang baik ini tampaknya memahami Irene yang meneriakan kata 'Bumi!' Sebagai makna 'Aku ingin melihat peta.'

Jadi dia membawaku ke sini untuk menunjukkan peta yang lebih baik.

Hmm, manis sekali.

Kamu juga kan anak-anak. Bagaimana bisa kamu begitu pandai merawat adik perempuanmu?


"Irene, boleh aku menjelaskan?"

"Iya."

Kedua anak itu duduk berdampingan di bangku kaki dekat rak buku dan cukup dekat sampai bahu mereka bersentuhan.

Benjamin melebarkan petanya agar Irene bisa melihatnya dengan baik.

Jauh lebih detail daripada yang di luar, dan bahkan menggambarkan perubahan perbatasan zaman.


"Ini adalah ibu kotanya. Di sini."

Sebuah jari kecil menunjuk ke tengah peta.

"Ibukotanya ada di sini..."

Saat Irene mengikuti, Benjamin membelai puncak kepala Irene.

"Irene adalah gadis yang baik dan cerdas"


Aku tidak percaya kamu mengatakannya, hanya karena aku mengulangi kata-katanya.

Anehnya, ini terasa menyenangkan.

Aku pikir, aku akan candu dengan pujiannya itu.


Penjelasan Benjamin berlanjut, saat dia beralih untuk menunjukkan panah dan grafik tahun di peta.

"Jadi luasnya Kekaisaran Terence berasal dari hulu Sears ..."


Kekaisaran Terence? Di antara penjelasan Benjamin, Aku mendengar nama negara yang kukenal..

Itu pasti nama yang kutahu. Aku tidak mungkin salah. Ini adalah…


Meskipun Irene memiliki keraguan yang masuk akal, penjelasan Benjamin masih berlanjut.

"Dinasti Terrence adalah orang-orang yang memerintah negara"


"Ah!"

Aku ingat, kenapa aku tiba-tiba baru memikirkannya?

Kekaisaran Terrence, Kerajaan Terrence?

Nama kerajaan itu muncul dalam novel fantasi romansa "Lend Me Your Heart", yang aku gemar baca.

'Kalau begitu…. Apakah ini di dalam novel? "

Jadi apa aku berada dalam novel?


Namun tidak peduli seberapa kalipun aku pikirkan, aku tidak pernah ingat seorang tokoh bernama Irene Webber.

Ada kemungkinan dia adalah Extra yang hampir tidak muncul atau dia bahkan karakter yang sama sekali tidak muncul. Aki yakin itu karena sudah membacanya sampai berkali-kali.

Tapi itu hal yang bagus. Artinya aku bisa hidup normal meski itu dunia dalam novel.

Tapi kenapa nama Webber terus memberikan… perasaan akrab dan juga menakutkan? Dimana ya aku pernah mendengarnya?


Itulah yang aku pikirkan, dan salah satu penjelasan baru dari kakakku sekarang berjalan ke sejarah Kekaisarannya.


"Jadi, setelah kelahiran Pangeran Elvin Manuel, lahirlah cahaya masa depan"


Tidak ada yang tidak diketahui anak ini.


"Dia yang akan menjadi Putra Mahkota. Saat itu, Irene mungkin juga bisa ikut kita ke istana"


Irene bergidik mendengar kata Putra Mahkota. Teka-tekinya pun terselesaikan.


Elvin Manuel Terence, si Putra Mahkota!

Bukankah dia karakter utamanya?


Dan sekelebat memori tentang scene sang Putra Mahkota tersebut melintas di benaknya.

["Kamu tidak perlu khawatir, aku memiliki seorang sekertaris yang kompeten bernama 'Benjamin Webber'"]

["Apa masalahnya? Aku kan memiliki pria yang luar biasa bernama 'Benjamin Webber'."]

["Jangan khawatir, 'Benjamin Webber'. Aku akan pastikan untuk kembali dan melakukan pekerjaanku dengan giat"]


Benjamin Webber, seoran maskot pekerja keras!


Irene menatap anak malaikat yang membantu membalikan halaman di sampingnya.


Kakak ini, yang selalu peduli pada Irene dan menjaganya, akan menjadi korban dari atasan yang keji itu… Tidak, dia akan menjadi sekertarisnya Putra Mahkota?!


"Irene?"


Tidak boleh.. Aku tidak setuju

Bagaimana bisa aku membiarkan kakakku tercinta ini melalui hal yang menyedihkan? 


Irene kembali menatap Benjamin dengan setengah hati.

"….Aku benci."


Alangkah baiknya jika aku bisa menjelaskan sesuatu dengan benar.


Gadis kecil itu bahkan tidak bisa menggambarkannya, jadi satu-satunya hal yang keluar dari mulutnya adalah ini. Mungkin Benjamin juga tidak mengerti apa yang adiknya itu katakan..

Meski demikian, bocah laki-laki itu menutup buku atlasnya dan memeluk erat adik kecilnya.

"Begitukah? Jika kamu benci, tidak usah dilakukan"

Kakaknya menepuk punggung Irene dan menyampaikan kata-kata manis sehingga Irene menyandarkan dahi kecilnya di bahu kakaknya.


Jika kamu benci, tidak usah dilakukan.


Kalau seseorang pernah mengatakan kata-kata ini kepadaku di kehidupan sebelumnya, apakah akan ada yang berubah?

Aku tidak tahu. Karena semuanya sudah terlambat.

“Ya, aku benci.”

Aku benci hidupku yang termakan oleh pekerjaan. Aku tahu betapa menyeramkannya hal itu, lebih dari apapun.

'Karena itu.'

Agar kakakku tidak tersakiti seperti itu, agar kakakku tidak kehilangan sesuatu yang berharga karena pekerjaannya.

'Aku akan menolongmu.'

Demi kakakku yang lembut hatinya.

...

Sejak hari itu, Irene memutuskan untuk menjaga Benjamin di sisinya. Ketika ia bangun di pagi hari, ia akan segera mencari Benjamin terlebih dahulu dan menghabiskan sebagian besar waktu bersamanya sebelum akhirnya dia tertidur kembali. Namun ada pula saat, ketika Benjamin yang bangun pagi, kakaknya itu akan mulai mencari Irene juga. Setelah beberapa waktu berlalu, Irene akhirnya mulai bisa mengenal huruf-huruf itu dengan benar.


Aku tidak belajar sendiri, tapi ketika aku membaca buku yang dibacakan oleh Benjamin, entah kenapa aku menemukan sesuatu.

'Inikah alasan kenapa mereka suka mengatakan, belajarlah ketika masih muda?'

Karena kepalaku masih baru, aku jadi bisa menghafalnya dengan cepat. Tentu saja, bukan berarti belajar itu bagus.


Dan kemudian, suatu hari. Irene diam-diam memegang pensil warna di sudut dan mendengus, berjuang dengan otot-otot kecilnya.

Benjamin mendekat karena dia ingin membantunya, tetapi Irene dengan cepat melarikan diri.

“Jangan mendekat..Kak”. Dia mengatakannya dengan nada tertekan.

Meskipun sedikit kecewa, Benjamin tetap menghormati perkataan Irene.


Namun sesaat kemudian, Irene mulai menangis kembali dengan selembar kertas di tangannya.

"Kenapa tidak mau.."

"Hah?"

Ketika Benjamin bertanya, Irene balik mengulurkan kertas putih kepadanya dalam diam.

Saat kakaknya membuka lipatannya, ada tulisan “Benjamin Webber” yang tertulis di atas kertas itu, berulang kali.

Meskipun, kata-katanya tidak ditulis dengan benar, tidak ada yang dapat menjelaskan perasaannya, dalam situasi seperti ini.

Benjamin tampak keheranan, tanganya membolak-balikan kertas coretan huruf Irene kecil.

“Apa ibu mengajarimu cara menulis?”

Irene menggeleng.

"Kalau begitu, Ayah?"

Irene menggeleng lagi.

"Kalau begitu siapa?"

Irene lalu menatap Benjamin.

"Kakak."

"Aku?"

Irene mengangguk.

"Ah…"

Benjamin akhirnya mengerti satu hal. Irene melihat nama dirinya di buku catatan yang pernah ia bacakan untuk adiknya dan Irene mencoba menulis hal yang sama.

Meskipun demikian, beberapa katanya masih bisa dapat terbaca. Meskipun sulit untuk dipahami.


"Tulisan pertama Irene"

Benjamin membungkukkan dirinya agar bisa menatap Irene.

“Ini namaku.” 

'Aneh. Aku tidak menginginkan hadiah apapun hanya karena aku merawat adikku sendiri, tapi entah kenapa rasanya seperti aku menerima hadiah yang luar biasa'.


Tapi raut wajah Irene tidak terlihat baik seolah dia belum puas.

“Tapi itu jelek.”


"Kamu sudah melakukannya dengan baik. Kamu melakukan tugas dengan baik, Putri kediaman Webber. ”

Benjamin pun memberi ciuman ringan di kening anak kecil itu.



Postingan populer dari blog ini

Chapter 9

Chapter 6