Chapter 3.
Jika kamu mengenal musuh dan mengenal diri sendiri, kamu tidak akan berada dalam bahaya bahkan jika kamu bertarung hingga ratusan kali.
Tentu saja, bagi Irene, 'musuh' itu adalah Pangeran Elvin.
'Aku perlu mengumpulkan informasi tentang Elvin Manuel.'
Itu adalah rencana yang bagus. Kecuali Irene, yang harus melakukan rencana tersebut yang hanyalah anak berusia delapan tahun.
Karena aku bukan orang dewasa, aku tidak dapat menggunakan 'informasi' yang aku baca di buku aslinya.
Sangat disayangkan.
Aku bahkan tahu kalimat rahasia yang digunakan untuk menghubungi Serikat Informasi..
Tapi Irene tidak menyerah. Untungnya, ada outlet media bernama koran di dunia ini, dan dia berniat menggunakannya untuk saat ini.
Jadi, seperti inilah rutinitas pagi Irene.
"Selamat pagi, Nona Irene.
"Hai, Beth"
Bangun, 08:00 Pagi.
Aku terbangun dari tempat tidur dan meregangkan tubuhku, untuk merangsang tulang-tulangku yang masih dalam masa pertumbuhan.
Sekadar informasi, Irene memang lebih pendek dari anak sepantarannya.
"Ini susu hangat."
Maid selalu menyiapkan susu seolah-olah dia tahu permasalahan Irene yang belum pernah dirinya ceritakan kepada siapa pun.
Susu hangat di musim dingin dan susu sejuk di musim panas.
Aku bangun dan berdiri dari tempat tidurku, dan minum segelas susu itu sekaligus. Kemudian, melakukan senam ringan untuk menstimulasi tulang-tulang pertumbuhan lagi.
Cepatlah dewasa kakiku..
"Koran hari ini sudah diletakkan di mejamu, Nona."
"Terima kasih."
Setelah menyelesaikan senam, Irene duduk di mejanya dengan sisa susu di wajahnya.
Dengan tampang yang cukup muram, dia mulai membaca setiap koran yang terbit hari ini.
“Harga sayuran telah meroket…”
Tentu saja, ia cukup senang mengetahui kabar terkini, tapi hanya ada satu hal yang ingin dia ketahui.
[Proklamasi Pengangkatan Putra Mahkota, kekhawatiran tentang kelahiran prematur.]
Ini dia.
Artikel tentang Elvin Manuel.
'Ini adalah artikel gosip tentang pengangkatan pangeran yang masih kecil sebagai putra mahkota'
Mungkin ini adalah artikel yang ditulis oleh para bangsawan dari surat kabar.
Kaisar dan Permaisurinya telah lama hanya memiliki Pangeran Elvin Manuel sebagai anak mereka.
Dalam hal ini, manusia selalu saja mencari gosip, apakah itu memang sudah direncanakan atau seorang anak itu bahkan belum dikandung. Mereka adalah manusia-manusia yang tidak tahu harus melakukan apa selain menggosipinya.
Apa salahnya sih memiliki satu anak?
Bagaimanapun, pada saat semua orang penasaran, berita tersebut pun muncul di koran.
[Dugaan penyelundupan Peony ke Istana.]
Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi Teh Peony dipercaya bisa membantu kehamilan.
Dan orang-orang mulai bergosip kembali, mengatakan, 'Apakah akan muncul sebuah kehamilan?'
Mereka benar-benar gila.
Pertama, bisa saja kalau Permaisuri merupakan penyuka Teh Peony, kan?
Tapi asal mula gosip itu tentu saja, untuk menciptakan suasana pesta bagi para bangsawan yang mendambakan kekuasaan. Mereka akan berbondong-bondong membawa putri mereka yang masih muda kepada Kaisar. Dengan harapan ketika seorang pangeran baru lahir, mereka setidaknya bisa berharap kalau cucu mereka akan menduduki kursi Putra Mahkota.
Kaisar yang mulai bosan dengan perilaku para bangsawan itu, sampai berkata bahwa 'Elvin adalah Putra Mahkota, semua orang harus menerima faktanya.'
Menggunakan momentum itu, dia memutuskan untuk menepis semua gosip mengenai Putra Mahkota.
Sebuah sub judul yang kontroversial pun ditempatkan pada halaman depan surat kabar yang menjawab para bangsawan yang menentang, 'Aku yang akan menjadikan anak ini Putra Mahkotanya, jadi kenapa itu penting untuk kalian?'
Begitulah cara Elvin yang akhirnya menjadi Putra Mahkota.
Dan berita ini belum lama kejadiannya, jadi kamu masih bisa melihat artikel umpan baliknya setiap hari.
“Gunting.. Mana guntingnya…”
Irene, yang bersenandung, mengambil gunting kecil dari lacinya dan mulai mengangkat koran dengan hati-hati.
"Boss Jahat.. Boss Jahat.."
Setelah memotong artikel tentang Elvin, aku mengeluarkan lembar memo yang telah aku masukkan kedalam rak buku. Aku tempelkan artikel yang terpotong-potong itu pada halaman kosong dan menekan-nekannya dengan kuat agar dapat menempel di halaman. Aku juga tidak lupa mencatat tanggal dari koran tersebut menggunakan pensil biru. Koleksi lembar memo ini sekarang sudah mencapai lima jilid.
Irene, yang mendengus dengan puas, menatap koran itu lagi.
"Bagus.."
Tok Tok Tok!
Saat itu, suara ketukan tertentu dari arah pintu terdengar, Irene langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Ini adalah ketukan rahasia Irene dan Benjamin, untuk memberi tahu adiknya bahwa dia datang menemuinya bahkan tanpa harus membuka pintu.
"Kakak!"
Irene membuka pintu lebar-lebar. Kakak sekarang adalah sahabatnya, dan penjaganya.
"Irene"
Meski masih pagi, Benjamin sudah terlihat rapi. Rambut keperakan yang sampai ke bahunya terurai dengan anggun. Aku tidak tahu apakah semua anak berusia dua belas tahun memang terlihat seperti dia, dan kulitnya juga halus.
Beberapa pelayan mengatakan bahwa kacamata yang dikenakan Benjamin hanya menyembunyikan penampilannya, namun Irene tidak berpikir demikian.
Benjamin yang tidak berkacamata juga keren, tapi Benjamin yang pakai kacamata lebih keren.
Terutama ketika dia membacakan buku untuk Irene, ada bagusnya bermain-main dengan sisi kacamatanya dari waktu ke waktu.
Satu-satunya keluhannya akhir-akhir ini adalah tinggi badan Kakak yang semakin bertambah menakutkan. Berkat itu, wajah tampannya menjadi semakin jauh, dan sekarang aku tidak bisa menjangkau pipi putih itu meski aku merentangkan tanganku. Sungguh sia-sia.
"Ya ampun, susu yang kamu minum masih ada di wajahmu."
"Hah? Wajahku?"
Saat Irene menyentuh wajahnya, Benjamin berlutut di depannya dan tersenyum.
"Sini."
Dia mengeluarkan saputangannya dan menyeka mulut Irene dengan hati-hati.
Sangat hati-hati, dan penuh perhatian
Irene menyukai seseorang yang memperlakukannya seperti permata, jadi dia menerima semua kebaikan yang diberikan padanya dengan senang hati.
"Nah, selesai"
“Sudah bersih, kan?”
"Irene itu memang selalu bersih dan selalu terlihat imut."
Ugh…
Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudahnya? Dia itu baru masih 12 tahun.
Tentu saja, bukan hal yang buruk untuk didengar.
Jika ada niat baik yang murni di antara kata-kata pujian itu, aku akan selalu senang menerimanya.
Tapi, aku sering merasa malu.
"Apa kamu tidur dengan nyenyak? Bukankah semalam dingin?"
Keduanya secara alami berpegangan tangan dan pindah ke perapian dalam ruangan.
Api kecil yang memakan kayu kering dan menghasilkan suara berderak.
“Tidak dingin kok. Selimutnya juga tebal-tebal"
Selain itu, teksturnya yang lembut sangat bagus sehingga membuatku langsung tertidur lelap.
"Kalau begitu syukurlah"
Belaian Benjamin ke kepala Irene, berhenti ketika ia menatap pada satu titik.
Untuk sesaat ekspresi lembutnya berubah menjadi serius, dan Irene dengan cepat mengikuti arah tatapannya. Apa yang kakaknya lihat adalah mejanya Irene.
"Kakak?"
"Hah?"
"Ada apa?"
"Tidak, aku pikir kamu mulai membaca koran dengan sungguh-sungguh..."
Dia mengatakan akhir dari kalimatnya dengan samar-samar. Tidak mungkin. Apakah koran memang hal yang sulit dibaca oleh anak-anak?
“Ya, aku baca koran.”
“Memang ada artikel yang menarik?”
"Iya!"
Irene berdiri di atas karpet dekat perapian dan menarik ujung lengan baju Benjamin. Keduanya saling berhadapan duduk di atas karpet lembut.
"Aku melihat artikel tentang Putra Mahkota"
"…Ah."
Benjamin tersenyum tipis.
Irene tahu bahwa ekspresi Kakaknya itu tidak terlihat bagus. Mungkin Benjamin tidak ingin Irene melihat "Lingkungan Orang Dewasa" dalam artikel tersebut.
Tapi Irene yang asli sudah cukup berpengalaman merasakan kepahitan masyarakat yang kuat di Neraka Joseon*.
*Istilah yang digunakan untuk mengkritisi situasi sosial ekonomi di Korea Selatan.
Itu berarti Irene sangat sadar bahwa bukan hanya mimpi, harapan, dan keadilan yang dapat mengubah dunia.
Irene tersenyum ceria agar Benjamin tidak khawatir.
"Aku memotong-motong artikel tentangnya dengan gunting dan menempelkannya di lembar memo"
"Kalau begitu, artikel itu mengesankan untukmu"
"Iya."
"Irene..."
Benjamin menunjukan ekspresi khawatirnya, lalu mengelus rambut panjang adiknya itu.
Rambut kedua orang itu mirip, warna perak dan teksturnya juga lembut.
Mereka tampak seperti saudara yang serasi. Kakak dan adik dengan penampilan yang sangat cantik.
"Kenapa, Kak?"
“Semua artikel tentang Putra Mahkota sepertinya selalu menarik perhatian”
"Tapi itu juga tidak benar" Irene menepisnya dengan cepat.
"Aku juga melihat artikel tentang kenaikan harga sayur."
“Tapi aku yakin kamu tidak memasukkannya ke dalam lembar memo itu”
Irene pun tersentak.
Benar.. Kenaikan harga sayur kali ini tidak ada dikaitkan lagi dengan Elvin Manuel.
'Bagaimana jika ternyata Irene menyukai Putra Mahkota? Irene telah membaca artikelnya dengan teliti dan malah mengarsipkannya di lembar memo' (Benjamin)
'Tidak peduli siapapun yang melihatnya, mereka akan mengira kalau aku tampak seperti anak yang siap menusuknya dari belakang.' (Irene)
'Aku perlu Strategi Penyaring Asap.' (Irene)